Meski Picu Stroke, 87 Persen Penduduk Indonesia Tetap Suka Gorengan

0

JAKARTA (Suara Karya): Hasil Data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menunjukkan 86,7 persen penduduk Indonesia diatas tiga tahun suka makan gorengan. Padahal, gorengan merupakan salah satu pemicu terjadinya stroke.

“Ini tantangan terbesar bagi Kementerian Kesehatan. Disatu sisi kami ditargetkan untuk menurunkan kasus stroke di Tanah Air, tetapi di sisi lain orang Indonesia sangat suka makan gorengan,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemkes, Cut Putri Arianie di Jakarta, Senin (28/10/19).

Diskusi media digelar terkait peringatan Hari Stroke Sedunia yang jatuh setiap 29 Oktober. Kegiatan itu juga dihadiri Sekretaris Kelompok Studi (Pokdi) Stroke, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Ali Rasyid.

Dijelaskan, faktor lain terjadinya stroke selain sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat seperti tiga terlalu yaitu manis, asin dan berminyak, juga dipengaruhi faktor minimnya aktivitas fisik, merokok dan penggunaan alkohol.

“Biasakan olahraga, bisa mulai dari yang mudah seperti jalan kaki minimal 30 menit perhari untuk menjaga kesehatan tubuh. Jika tak ada waktu, bisa lakukan aktivitas fisik di rumah ataupun di kantor. Setiap satu jam bekerja, biasakan ambil waktu 10 menit buat jalan keliling ruang kerja atau naik turun tangga. Tidak sehat jika duduk sepanjang waktu,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Al Rasyid. Stroke patut mendapat perhatian, karena penyakit itu menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia dan penyebab disabilitas nomor tiga. Data menunjukkan 1 dari 4 orang di dunia mengalami stroke.

“Jangan sampai kita menjadi 1 dari 4 orang tersebut. Karena sesungguhnya stroke dapat dicegah,” katanya.

Jika tidak bisa meninggalkan makanan gorengan, menurut Al Rasyid, masyarakat bisa mengimbanginya dengan konsumsi buah dan sayur segar setiap hari. Hindari konsumsi produk olahan yang kaya dengan bahan pengawet, berlemak dan daging.

“Yang terpenting, jangan lupa bergerak. Karena makanan yang kita konsumsi harus digunakan untuk energi. Jika tidak, makanan itu akan menumpuk dalam tubuh sehingga menimbulkan banyak penyakit,” kata Al Rasyid.

Ia mengingatkan masyarakat untuk berlaku CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stress.

“Cek tekanan darah atau gula darah, minimal 1 kali sebulan. Karena banyak kasus stroke terjadi lantaran tekanan darah yang terlalu tinggi. Jika terkena hipertensi atau tekanan darah tinggi, jangan stress. Hal itu akan membuat darah tinggi semakin naik,” tuturnya.

Untuk terhindar dari stroke, lanjut Cut Putri Arianie, terapkan gaya hidup sedini mungkin. Karena di Indonesia mulai banyak kasus stroke terjadi pada usia terbilang muda, usia 20-an.

“Saat ini ada kecenderungan rapat atau bertemu teman sebaya atau kolega kerja di restoran. Dampaknya jadi makan berlebih. Kita perlu sosialisasikan kumpul dengan teman di tempat olahraga, bisa di lapangan sambil jalan sehat atau aktivitas fisik ringan. Sehingga tubuh jadi lebih sehat,” kata Cut menandaskan. (Tri Wahyuni)