Model Desa Wisata Indonesia Menarik Perhatian Dunia Internasional

0

JAKARTA (Suara Karya): Model desa wisata yang dikembangkan di sejumlah daerah di Indonesia, ternyata menarik dunia internasional. Hal itu terungkap dalam webinar yang diselenggarakan Smart Community Tourism (SCoT), Sabtu (12/3/22).

Webinar bertajuk ‘Empowering Tourism Villages: Successful Practices From Indonesia’ itu menampilkan dua model desa wisata, yaitu Candirejo, di Magelang, Jawa Tengah dan Nglanggeran di Gunung Kidul, Yogyakarta. Dimana Desa Wisata Nglanggeran merupakan UNWTO’s Best Tourism Village 2021.

Acara yang dipandu pakar pariwisata dari James Cook University (JCU) Australia yang juga staf pengajar Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Hera Oktadiana menampilkan pembicara kunci, Profesor Emeritus, University of Wisconsin-Stout USA, Jafar Jafari.

Hadir tamu kehormatan, Prof Kazem Vafadari, Division Head Graduate School of Asia Pacific Studies Tourism and Hospitality, Ritsumeikan Asia Pacific University Japan.

Pembicara lainya adalah pengelola Desa Wisata Candirejo, Tatak Sariawan dan pengelola Desa Wisata Nglanggeran, Sugeng Handoko. Para pembahas dari kalangan akademisi, yaitu Winda Mercedes Mingkid dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Saptarining Wulan dari STP Trisakti dan Dhesta Titi Raharjana dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Seperti dikemukakan Winda Mercedes Mingkid, pengembangan desa wisata menarik perhatian karena fokus pada sumber daya alam, seni dan budaya. Selain juga berbasis masyarakat.

“Karena itu penting dijaga keasrian alam, seni dan budaya masyarakat setempat agar wisata ini berkelanjutan. Wisatawan akan merasakan pengalaman jalan-jalan yang komplit, karena mencakup banyak hal dalam satu wilayah,” ujarnya.

Winda menyebut sejumlah fasilitas yang harus disiapkan saat mengembangkan model desa wisata, antara lain, tempat menginap (homestay), handycraft untuk oleh-oleh, seni dan budaya untuk kepuasan batin, ‘local wisdom’, atraksi dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah.

Strategi untuk pengembangan desa wisata, antara lain, bagaimana membuat wisata yang berkualitas yang memiliki nilai, sehingga wisatawan tak segan mengeluarkan uangnya. Dan yang tak kalah penting menjaga lingkungan.

“Faktor lainnya adalah akses menuju desa wisata itu seperti tersedianya transportasi dan informasi yang seluas-luasnya,” kata Winda.

Hal senada dikemukakan Saptarining Wulan dari STP Trisakti. Pengembangan desa wisata harus memperhatikan CHSE (cleanliness, Health, Safety and Environment). “Kebersihan toilet di tempat wisata harus menjadi perhatian penuh untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan. Sayang, banyak pengelola yang menganggap remeh urusan toilet ini,” ujarnya.

Kehadiran teknologi juga penting dalam pengembangan desa wisata yang ingin memadukan pariwisata masa lalu dan masa kini. Apalagi ada kebiasaan baru di kalangan milenial yang hobi plesiran ke tempat-tempat wisata baru sambil tetap bekerja dengan memanfaatkan teknologi.

“Pentingnya meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya. Yang tak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga akrab dengan teknologi,” ujar perempuan penyandang Putri Sagu tersebut.

Dan yang tak kalah penting, menurut Wulan, keberadaan organisasi pengelola desa wisatanya. Karena meski daerah tersebut memiliki atraksi yang menarik, mudah dicapai dan memiliki kenyamanan di tempat wisatanya, jika organisasi itu tidak memiliki regulasi maka keberlangsungan hidup desa wisatanya akan terancam tak berlanjut.

“Sejak awal, pengembangan desa wisata harus memiliki regulasi yang resmi dari pemerintah setempat atau organisasi pariwisata di daerah agar destinasi wisata itu tidak berhenti di tengah jalan. Harus dipastikan keberlanjutan dari desa wisata tersebut,” kata Wulan.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Studi Pariwisata UGM dan pegiat wisata kerakyatan di Desa Wisata Institute, Yogyakarta, Destha Titi Raharjana menyebut pentingnya penguatan peran strategis desa wisata di Indonesia.
Karena ada sekitar 7.275 desa wisata di Indonesia, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Sedikitnya ada tiga peran strategis desa wisata, pertama dari aspek ekonomi. Pengembangan potensi melalui kegiatan wisata perdesaan mampu memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan warga,” tuturnya.

Kedua, aspek pengembangan lingkungan. Hal itu tentunya akan mendorong tindakan pelestarian, baik dari aspek budaya maupun aspek lingkungan fisik itu sendiri.

Ketiga, dari aspek sosial-budaya. Pengembangan wisata berbasis perdesaan mampu memberi rasa bangga bagi warga desa, karena nama desa mereka menjadi dikenal dan mendapat perhatian dari berbagai pihak. Penguatan modal sosial dan budaya mampu ditumbuhkan seiring berkembangnya sektor pariwisata.

“Belajar dari desa wisata Nglanggeran dan desa wisata Candirejo, penguatan peran strategis desa wisata perlu didukung 8 aspek,” katanya.

Kedelapan aspek itu mencakup penguatan kompetensi SDM di desa wisata, termasuk sisi kelembagaan pengelola, penguatan identitas/keunikan desa yang ditonjolkan, penerapan pembangunan berkelanjutan, kemampuan berinovasi dalam kemasan wisata untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan.

Selain untuk mendorong adanya pelibatan kaum perempuan dan atau kelompok difable dalam kegiatan wisata, penguatan USP (unique selling point), dan kemampuan pengelola dalam penggunaan teknologi informasi sebagai salah satu media pemasaran bagi desa-desa wisata. (Tri Wahyuni)