Moeldoko Ajak Kembangkan “Politik Cinta Kasih”

0

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, jika bangsa yang mendiami Nusantara ini dikelola dengan cinta kasih, maka politik di Indonesia pun akan menjadi politik yang sejuk.

“Politik yang jauh dari rasa kebencian dan memusuhi. Karena itu, mari kita kembangkan politik cinta kasih, perasaan saling bantu di antara sesama, terutama mereka yang sedang berada dalam kesusahan,” kata Moeldoko dalam seminar “Media dan Kemanusiaan: Peran Media bagi Masyarakat” yang diselenggarakan Yayasan Budha Tzu Chi-DAAI TV di Jakarta, Minggu (21/10).

Berbicara dalam tema ‘Menyikapi Berita Hoaks’, Moeldoko mengatakan, di era ‘post truth’ ini, kebenaran informasi tergantung pada tujuan dan selera produsen dan pembawa berita. “Sering informasi tak berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, namun mengecoh dengan tujuan kekuasaan, atau kekerasan dan berpotensi mempertajam polarisasi di masyarakat,” katanya.

Isu-isu yang diusung merupakan isu sensitif yang tendensius sentimen agama, suku, ras, dan kelompok kepentingan.

“Sebuah penelitian menunjukkan, 88,2 persen berita-berita media sosial saat ini berkaitan dengan SARA. Dari hari ke hari kita disodori berita hoaks dan fitnah. Ini sungguh berbahaya,” papar Moeldoko.

Panglima TNI 2013-2015 ini menegaskan pernyataan Presiden Jokowi bahwa Indonesia adalah negara besar dengan 260 juta penduduk, 1.300 suku bangsa dan lebih dari 740 bahasa. Bandingkan dengan Afghanistan yang hanya memiliki 35 juta penduduk, 14 suku bangsa dan 30 bahasa.

“Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berkata, 40 tahun lalu mereka adalah negara yang rukun dan damai. Namun, akibat berita-berita hoaks, mereka kini mundur, berada dalam lingkaran konflik tak berkesudahan,” kata peraih Bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akabari 1981 ini.

Moeldoko memaparkan, Kantor Staf Presiden melakukan berbagai upaya keras untuk mengatasi beredarnya aneka berita palsu. Misalnya, saat ada framing 10 juta Tenaga Kerja Asing dari China masuk ke Indonesia. Seolah ada pergerakan orang keluar dari pesawat, memakai kaos dan celana jeans disebar dalam media sosial dengan narasi ratusan ribu TKA mendarat di Indonesia.

“Itu berita bohong. Saya bisa mempertanggungjawabkannya,” kata Moeldoko menegaskan.

Terhadap isu serbuan TKA itu, Kantor Staf Presiden kemudian mengajak media terbang ke Morowali, untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana fakta tenaga kerja asing di lokasi kawasan industri pertambangan di Sulawesi Tengah.

“Mereka melihat fakta, bahwa benar ada TKA, tapi jumlahnya tidak signifikan, serta tidak benar menghilangkan kesempatan kerja tenaga kerja lokal kita,” ujarnya. (Nurhafiz)