Morula IVF Optimalisasikan Program Kehamilan lewat PGT-A dan PGT-M

0

JAKARTA (Suara Karya): Penyedia layanan fertilitas terpadu, Morula IVF Indonesia mengembangkan teknologi PGT-A dan PGT-M untuk mengoptimalisasi kehamilan, yang ditempuh melalui program bayi tabung.

“Dua teknologi itu memungkinkan proses seleksi embrio, sehingga embrio kita masukkan ke rahim merupakan kategori terbaik,” kata Chief Operating Officer (COO), Morula IVF Indonesia, Arif Hamsah dalam siaran pers, Rabu (12/10/22).

Arif Hamsah menyebut, salah satu penyebab infertilitas (sulit hamil) adalah kelainan kromosom pada embrio yang menempel pada rahim. Untuk itu, perlu dilakukan deteksi masalah kromosom pada embrio.

“Deteksi bisa dilakukan dua cara, yaitu menggunakan teknologi PGT-A (Preimplementation Genetic Testing for Aneuploidy) dan PGT-M (Preimplementation Genetic Testic for Monogenic Disease),” ujarnya.

Dijelaskan, PGT-A merupakan teknologi unggulan terbaru yang dikembangkan Morula IVF Jakarta untuk ‘screening’ kromosom pada embrio. Teknologi itu membantu memaksimalkan keberhasilan kehamilan dalam program bayi tabung (IVF).

“Proses transfer embrio ke dalam rahim merupakan saat paling kritis dari seluruh rangkaian program bayi tabung. Karena itu, pemeriksaan PGT-A pada embrio menjadi penting karena mengurangi risiko keguguran atau risiko lain yang dapat membahayakan ibu maupun calon bayi,” tuturnya.

PGT-A sangat disarankan bagi pasangan yang memiliki kondisi, antara lain, pasangan yang sudah melakukan program bayi tabung berulang kali tetapi belum berhasil untuk hamil; pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang; dan pasangan yang memiliki riwayat kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya.

Selain itu, pasangan yang sudah berusia tua, karena semakin bertambah usia ibu ada kemungkinan terjadi kelainan genetik; serta kelainan sperma yang berat pada suami.

Sedangkan PGT-M adalah jenis pemeriksaan untuk mendeteksi kromosom pada embrio secara lebih spesifik lagi. Teknologi itu bahkan bisa mendeteksi adanya kelainan genetik yang bakal diturunkan oleh keluarga. Misalkan, thalassemia, spinal muscular atropy, cystic fibrosis, dan lainnya.

“Jika pasutri memiliki anggota keluarga dengan kelainan genetik, disarankan untuk pemeriksaan PGT-M, guna mengetahui apakah ada kemungkinan si calon buah hati memiliki kelainan genetik tersebut,” kata Arif.

Pemeriksaan PGT-A atau PGT-M hanya dilakukan oleh pasutri yang melakukan program hamil dengan cara bayi tabung. Karena sifatnya hanya ‘screening’, maka tingkat akurasinya pun tidak sepenuhnya 100 persen.

“Ada kemungkinan sudah diperiksa secara detail, ternyata tidak sesuai dengan kondisi embrio yang sebenarnya,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Arif, pemeriksaan awal menjadi salah satu upaya mendukung program kehamilan mendapatkan hasil terbaik. (Tri Wahyuni)