Mudah-Mudahan Pasangan Jokowi- Ma’ruf  (J-M) Menang dalam Pilpres 2019

0
Ketua PPK Kosgoro 1957, Isdiono. (Suarakarya.co.id/Pramuji)

Oleh:  Isdiono

Pesta demokrasi yang akbar tahun 2019 akan segera digelar, guna memilih presiden dan wakilnya untuk masa jabatan 2019 – 2024. Selain itu, juga anggota DPR-RI, DPD dan DPRD di seluruh Indonesia.

Khusus untuk jabatan presiden dan wakil, telah ditetapkan dua pasangan oleh KPU, yaitu nomor urut 01, Jokowi- Ma”ruf (J-M) dan Probowo Subiyanto- Sandiaga Uno ( P-S) nomor urut 02.  Salah satu pasangan itu yaitu, Jakowi adalah patahana Presiden perioda 2014 – 2019  yang kala itu didampingi oleh Wapres Jusuf Kalla. Dan kini didampingi oleh Ma’ruf Amin.

Judul tulisan ini berupa harapan bagi pasangan J-M  tetapi  mungkin hasilnya yang bisa jadi berbeda, karena sangat tergantung dari keberpihakan dari mayoritas para pemilih. Mereka (para pemilih) akan dengan sungguh-sungguh mencermati visi dan misi yang ditawarkan oleh kedua pasangan itu.

Jika keberpihakan minimal 50 persen  plus satu, dibanding dengan pasangan lainnya, maka harapan kita kepada J-M itu akan terlaksana. Dengan demikian pasangan itu akan memimpin kembali bangsa ini dan Jakowi menjadi Presiden RI untuk periode 2019 – 2024.

Sejarah mencatat bahwa sejak reformasi digulirkan tahun 1998, bangsa Indonesia tidak memiliki GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) sebagai acuan pokok oleh kepala negara yang terpilih untuk melakukan pembangunan. Dalam sejarah itu pula bahwa bangsa kita ketika era Orde Baru itu, setelah lima tahun karyanya dievaluasi oleh lembaga tertinggi MPR yang hasilnya akan menentukan yang bersangkutan dapat atau tidaknya  mencalonkan kembali.

Presiden Suharto, karena karyanya yang dinilai baik oleh MPR, maka dipilih kembali hingga enam kali masa jabatan (pada era itu presiden dan wakilnya dipilih oleh lembaga tertinggi negara MPR).

Namun produk Orde Baru itu telah dikoreksi total oleh regim Orde Reformasi, sehingga semua pasangan Calon yang maju, diwajibkan menyampaikan programnya masing-masing. Dan mereka dipilih langsung oleh rakyat  dan dibatasi paling banyak  dua periode (sepuluh tahun).

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada periode tahun 2014- 2019   telah terbukti memberikan karyanya terbaik bagi bangsa Indonesia. Hasil-hasil pembangunan di segala bidang sudah dinikmati. Disamping itu, pasti terdapat  kekurangan. Akan tetapi  “tak ada gading yang tak retak “ kata peribahasa.  Namun  (J-M) diharapkan berhasil memimpin bangsa Indonesia kembali untuk lima tahun mendatang, sehinggga wajib menyampaikan programnya pula.

Kepemimpinan Presiden Jokowi sudah tidak diragukan hasilnya pada periode 2014 – 2019. Jadi, Jokowi tidak hanya “kalau, atau mungkin atau barangkali”, namun sudah merupakan realita atau pembangunannya sudah dikerjakan serta hasil karyanya sudah dinikmati oleh bangsa Indonesia.

Satu pertanyaan, apakah akan hanya sampai pada akhir masa jabatannya pada tahun 2019 sajakah Presiden Jokowi memimpin Indonesia  atau apakah perlu digantikan oleh calon lain seperti yang disuarakan oleh sekelompok orang: “ganti presiden”.

Bisa saja begitu, dan bisa juga tidak. Hal itu, sah-sah saja karena keinginan untuk ganti presiden tidak melanggar konstitusi. Atau dengan kata lain, hak semua warganegara untuk menentukan pilihannya masing-masing dapat berhasil atau tidaknya, sangat tergantung kepada rakyat yang mempunyai hak pilih.

Kembali kepada Presiden Jokowi, beliau sudah bertekad bulat maju kembali dalam Pilpres 2019 yang kini berpasangan dengan Ma’ruf Amin (J-M). Krenteg atau tekad itu didasari oleh suatu keinginan yang kuat untuk menyejahterakan kehidupan bangsa dengan melanjutkan semua programnya  yang telah dikerjakan pada periode 2014 – 2019.

Berdasarkan alur berfikir, jika suatu pekerjaan hanya diselesaikan sebagian saja, pasti tidak akan sempurna hasilnya dan bahkan sia-sia. Dan kecil kemungkinan bahkan pasti, penggantinya dari pasangan lain tidak akan melanjutkan program itu karena itu telah memiliki program sendiri.

Visi dan misinya pasti tidak akan bertautan dengan program J-M sebab akan dilandasi sekala prioritasnya programnya. Hal itu terlihat jelas pada penyajian visi dan misi yang disampaikan pada acara debat terbuka para paslon di sebarluaskan oleh media massa yang acara itu  dirancang dan diselenggarakan oleh KPU.

Akibatnya, program-program yang telah digarap oleh J-M, bisa jadi  tidak akan  berlanjut, dan menjadi  mangkrak.  Kalau ini terjadi, maka pasti akan banyak yang dirugikan, baik karena waktu maupun biaya dan lain-lainnya. Perlu diingat bahwa program itu diperuntukkan bagi bangsa Indonesia yang jumlahnya hampir 500 juta. Atas dasar pertimbangan itu maka “sudah sepatutnyalah bila Jakowi memimpin Indonesia kembali bersama pasangannya”, seperti  harapan yang tertera pada judul artikel ini.

Namun kemenangannya  harus yang dilandasi oleh kejujuran (fair play) dalam Pilpres yang bersih, sehingga merupakan produk politik yang bermartabat. Dan kita akan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bila pasangan Jokowi memimpin Republik Indonesia kembali untuk 5 tahun yng akan datang.

Oleh karenanya, kita wajib berusaha dengan sekuat tenaga, agar pesta demokrasi  yang akan digelar tanggal 17 April 2019 itu harus berlangsung dengan aman, tertib, kondusif dan menenteramkan hati seluruh hati bangsa Indonesia.  Bangsa lain di dunia ini, akan memberikan apresiasi terhadap produk pesta akbar itu.

Penulis adalah Ketua PPK Kosgoro 1957.