MUI: Masyarakat Tak Perlu Ragu Gunakan Vaksin MR

0
(suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk tak ragu menggunakan vaksin measles rubella (MR). Meski mengandung unsur dari babi, vaksin MR boleh digunakan dengan alasan kondisi saat ini adalah dlarurat syar’iyyah.

“Para ulama sudah sepakat seputar penggunaan vaksin MR, yaitu mubah atau diperbolehkan. Hal itu sesuai dengan fatwa MUI No 33 Tahun 2018 pada 20 Agustus lalu,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, usai pertemuan dengan Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan serta pimpinan MUI dari 34 provinsi, di Jakarta, Kamis (23/8).

Asrorun menjelaskan 3 alasan kenapa  vaksin MR boleh digunakan, yaitu ada unsur keterdesakan yang sesuai dengan syariah hukum Islam. Selain itu, belum ada alternatif vaksin yang halal dan ada keterangan ahli yang kompeten terkait bahaya yang timbul jika bayi tidak diberi vaksin tersebut.

“Imunisasi lebih banyak manfaat ketimbang mudharatnya. Melindungi kesehatan generasi muda Indonesia. Itu salah satu alasan kenapa vaksin MR boleh digunakan,” ucap Asrorun menegaskan.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono menjelaskan, hingga saat ini Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Adapun jumlah total kasus campak-rubella selama 2014-2018 dilaporkan 57.056 kasus.

“Lebih dari tiga perempat dari total kasus yang dilaporkan, baik campak sebesar 89 persen maupun rubella 77 persen diderita oleh anak usia dibawah 15 tahun,” ujar Anung.

Dijelaskan, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular. Gejala campak antara lain demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai batuk, pilek, serta komplikasi pneumonia yang berujung pada kematian.

Sementara rubella adalah penyakit akut yang sering menginfeksi anak dengan gejala yang tidak spesifik. Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi. Data di 12 rumah sakit sentinel pemantauan kasus conginetal rubella syndrom (CRS) selama 2013-2018 menemukan 1.660 kasus.

“Hingga saat ini belum ada satupun pengobatan untuk mematikan virus rubella dalam tubuh. Imunisasi merupakan satu-satunya cara paling efektif untuk pencegahan,” tuturnya.

Anung memperkirakan, kerugian ekonomi yang ditimbulkan karena penyakit MR selama 5 tahun (2014-2018) mencapai Rp5,7 triliun. Perhitungan itu menggunakan model cost benefit analysis yang dikembangkan Prof Soewarta Kosen.

“Secara ekonomi, dana yang dikeluarkan pemerintah untuk kampanye dan imunisasi jauh lebih murah ketimbang biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dalam penanganan kasus MR. Dana kampanye dan imunisasi hanya Rp29 ribu per anak,” kata Anung.

Pemerintah selama Agustus-September 2018 tengah menggelar program imunisasi MR di 34 provinsi. Target sasaran sebanyak 31 juta anak usia 9 bulan hingga dibawah 15 tahun. Vaksin kombinasi MR sudah diujicoba di 6 provinsi pada 2017.

“Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan MR diperlukan cakupan imunisasi minimal 95 persen di seluruh wilayah agar terbentuk herd imunity atau kekebalan kelompok seperti yang diharapkan,” ucap Anung menandaskan. (Tri Wahyuni)