Mulai 2020, Pelatihan Guru Gunakan Metode “5 In 3 On”

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengubah model pelatihan untuk guru, yang sebelumnya terpusat kini berbasis zonasi. Pelatihan menggunakan metode 5 in (pelatihan) 3 on (penerapan) dan melibatkan komunitas guru di masing-masing zonasi.

“Pengajarnya adalah para guru berprestasi di wilayah masing-masing, yang sebelumnya mendapat pelatihan sebagai guru inti. Proses pelatihan bagi guru inti terus dilakukan hingga metode “5 in 3 on” diterapkan pada 2020,” kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemdikbud, Supriano disela acara Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi pada Selasa (13/8/2019) di Jakarta.

Dijelaskan, metode “5 in 3 on” dirancang untuk merespons hasil Ujian Nasional (UN) yang diberikan sampai level analisis capaian butir soal. Cara itu bermanfaat untuk mendiagnosa kelemahan pembelajaran di suatu zona.

“Pelatihan skema in on ini dimulai dari tahap guru bertukar pikiran hingga evaluasi perubahan kelas yang selama ini belum pernah dilakukan. Dulu, guru yang ikut pelatihan di pusat, langsung pulang ke daerah masing-masing. Pusat maupun daerah tidak bisa kontrol lagi apakah pelatihan itu diterapkan di sekolah,” ujarnya.

Disebutkan beberapa tahap dalam proses pelatihan in on. Pertama, instruktur nasional melatih guru inti dari setiap mata pelajaran di semua zona. Para guru inti bertanggung jawab atas pelaksanaan pelatihan. Kedua, pelatihan dimulai dengan melibatkan komunitas guru di masing-masing zona yaitu Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk sekolah dasar (SD) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk sekolah menengah.

“Pada in pertama, setiap guru memaparkan kendala yang mengacu nilai UN, kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD). Guru inti akan memberi solusi atas masalah yang dihadapi para guru. Materi apa saja yang perlu dipertajam,” ujarnya.

Selanjutnya, guru akan mengikuti pelatihan lagi yang disebut in kedua. Pada kesempatan itu, guru harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang berbeda antara guru satu dengan lainnya. Setelah RPP selesai di in kedua, maka guru masuk ke on pertama, yaitu guru kembali ke kelas untuk mengajar.

“Apa saja yang diperoleh dari in pertama dan kedua, bisa diterapkan guru pada on pertama. Dari pembelajaran itu, guru bisa cari masukan dari siswa apa saja hal sulit dari pembelajaran itu. Masukan dari siswa itu kemudian dibawa guru untuk pelatihan (in) ketiga,” ujarnya.

Guru inti, lanjut Supriano, akan memberi solusi atas permasalahan dalam kelas. Setelah itu, guru masuk fase on 2. Terjadi lagi perbaikan pembelajaran di kelas, lalu guru membawa masalah di kelas dan membahasnya di pelatihan (in) keempat. Guru inti memberi solusi lagi, kemudian dilakukan perbaikan di on ketiga.

“Lalu guru masuk lagi ke in 5 untuk penyempurnaan atau perumusan best practice (praktik terbaik). Kalau dihitung, pelatihan 3 on 5 in itu berlangsung selama 82 jam,” katanya.

Menurut Supriano, pelatihan berbasis zona tak lagi menyiapkan modul secara umum, tapi dipecah berdasarkan unit-unit. Bisa jadi, satu zona dengan zona lain berbeda masalahnya. Atau sama-sama ada masalah pada matematika, tetapi materinya berbeda. Dengan demikian, proses perbaikan dan diskusi antar guru bisa fokus pada masalah.

Pelatihan akan berlanjut hingga tahap evaluasi. Kondisinya berbeda dibanding pelatihan sebelumnya, karena tidak dilanjutkan dengan evaluasi. Alhasil, pemerintah tak memiliki gambaran tentang kesiapan guru dalam mendidik siswa.

Supriano menjelaskan, RPP berfokus pada 70 persen pedagogik dan 30 persen konten. Pasalnya, in dan on hanya fokus pada proses pembelajaran bukan materi. Sebab, ada guru yang memiliki kemampuan di atas rata-rata tetapi tidak dapat mengajar siswa dengan baik.

Ditambahkan, skema pelatihan in dan on akan mulai diterapkan pada guru SMP. Pasalnya, materi dan kesiapan untuk menjalankan metode in on baru tingkat SMP yang tersebar di 4.580 zona untuk semua mata pelajaran. Anggaran yang disiapkan untuk pelatihan itu mencapai Rp840 miliar.

“Dana itu digunakan untuk biaya makan dan transportasi guru selama pelatihan selama 82 jam. Satu kelompok MGMP mendapat dana Rp21 juta untuk operasional,” ujarnya.

Pada bagian akhir pernyataannya, Supriano berharap hasil inovasi dari ajang Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi akan menjadi best practices yang didiseminasikan dalam program PKP di berbagai zona. (Tri Wahyuni)