Nadiem Makarim Dinilai Layak Jadi Mendikbud di Era Digital

0

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat pendidikan Indra Charismiadji memuji kebijakan Presiden Joko Widodo yang menempatkan mantan bos Gojek, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Karena, di era digital saat ini butuh pucuk pimpinan yang mengerti pendidikan berbasis teknologi.

“Keberadaan Nadiem di Kemdikbud harus didukung tim yang mengerti bagaimana mewujudkan pendidikan berbasis digital. Jika tidak, rencana itu bakal kedodoran,” kata Indra saat diminta komentarnya seputar terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud periode 2019-2024, di Jakarta, Rabu (23/10/19).

Indra mencontohkan program digitalisasi sekolah yang diluncurkan pemerintah pada awal Oktober lalu. Bagi Indra, menjadikan sekolah di Indonesia berbasis digital bukan hal yang mustahil. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan dengan cara pelatihan yang biasa-biasa saja atau menggelontorkan anggaran.

“Anggaran digitalisasi sekolah itu besar sekali. Karena komputer tablet yang rencananya bakal dibagikan ke sekolah jumlahnya mencapai 2 juta unit. Belum bantuan laptop pendukung ke sekolah. Sayang sekali, jika anggaran yang besar itu tidak memberi hasil yang optimal,” ujarnya.

Ia berharap, sistem pendidikan berbasis digital yang akan diterapkan pemerintah mampu membuat anak Indonesia memahami bahwa teknologi hanya sebatas alat bantu. Sehingga anak tak tergantung pada teknologi. “Anak harus bisa menjadi pihak yang menguasai, bukan dikuasai oleh teknologi,” ujarnya.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Indra, Mendikbud Nadiem Makarim harus bisa menjadi kolaborator sejati, serta tidak gengsi untuk bekerja sama lintas kementerian.

Alasannya, lanjut Indra, pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak mungkin dilakukan satu kementerian saja, melainkan secara bersama-sama. Kemudian pendidikan harus dikembangkan berbasis sains, teknologi, teknik, seni dan matematika.

“Saya berharap ada semacam cetak biru pembangunan sumber daya manusia. Paling tidak sampai tahun 2030. Pembuatan cetak biru harus dilakukan bersama dengan kementerian lain, agar programnya tidak saling tumpang tindih,” ujarnya.

Ditegaskan, metode pengajaran juga harus mempertimbangkan materi yang digunakan peserta didik di masa depan. Sayangnya, saat ini masih terlalu banyak materi pelatihan bagi guru yang tidak penting dan tidak tepat sasaran.

“Menjalankan pendidikan berbasis teknologi ini bukanlah sesuatu yang sulit jika dilakukan dengan perencanaan yang matang. Misalkan, model pelatihan Simdik (sistem informasi manajemen pendidikan),” ujarnya.

Simdik merupakan sistem pelatihan yang dibuat Indra bersama tim-nya untuk para guru non-TIK (teknologi informasi dan komputer) agar mereka mampu memahami pemanfaatan digital dalam dunia pendidikan, khususnya bidang vokasi (kejuruan). Diharapkan, pelatihan itu dapat menjawab tantangan dunia industri yang tak hanya butuh tenaga kerja terampil dan profesional, tetapi juga mampu berinovasi.

Ditambahkan, para guru yang dilatih tiga bulan lalu dengan skema Simdik ini sudah dapat menikmati hasilnya. Mereka berhasil menularkan ilmunya ke peserta didik masing-masing. Bahkan, beberapa di antara siswa telah menghasilkan karya.

“Ini berarti sudah terjadi suatu proses. Jangan bilang guru itu tidak bisa berubah. Saya bisa buktikan sesuatu yang berbeda dengan hasil Simdik, asalkan caranya tepat. Bukan sekadar pelatihan dan bagi-bagi anggaran pada skema reborn,” ucapnya.

Indra menyebut, pelatihan yang dilakukan pemerintah selama ini banyak memuat materi yang tidak penting. Sedangkan metode pengajaran dalam Simdik memuat materi yang akan bermanfaat bagi peserta didik di masa depan.

Jika mendikbud baru kesulitan mencari tim ahli untuk menjalankan visinya, menurut Indra, bisa mencari ahli diluar kementerian. Cari saja pakar IT di luar kementerian yang memiliki rekam jejak atas karir dan kompetensinya.

“Kalau menurut saya lebih baik cari ahlinya dari luar. Kalau dari dalam, saya khawatir bakal berjalan lambat karena persoalan birokrasi,” kata Indra menandaskan. (Tri Wahyuni)