Nilai Rapor Rawan Manipulasi, IGI Usulkan Jalur Prestasi PPDB Dihapus

0

JAKARTA (Suara Karya): Ikatan Guru Indonesia mengusulkan agar jalur prestasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk jenjang SMP tahun ini ditiadakan. Karena nilai rapor yang jadi salah satu syarat seleksi jalur prestasi pada PPDB untuk sekolah unggulan rawan dimanipulasi.

“Tahun ini PPDB, terutama di jenjang SMP lebih baik pakai jalur domisili atau perpindahan orang tua saja, karena nilai rapor rawan dimanipulasi,” kata Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim dalam siaran pers yang diterima Minggu (29/3/20)

Ramli menjelaskan, usulan IGI itu merujuk pada hasil survei kepada 401 guru di 34 provinsi. Survey itu dilakukan IGI hanya satu hari setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengumumkan nilai rapor sebagai bahan pertimbangan masuk jalur prestasi.

“Hasilnya mengejutkan, karena ada 81,9 persen guru menyatakan nilai rapor rawan dimanipulasi,” tuturnya.

Ramli menambahkan, IGI mengajukan pertanyaan “PPDB 2020 akan memakai nilai rapor untuk penerimaan di SMA dan SMP, menurut bapak dan ibu sebagai guru, apakah nilai rapor itu bisa di manipulasi?”

Hasilnya, lanjut Ramli, sebanyak 148 responden atau 36 perseb menyatakan “sangat bisa”, sementara 188 responden atau 45,8 persen menyatakan “bisa” atau total 81,9 persen responden guru yakin bisa dimanipulasi.

“Hanya 18,1 persen responden yang tidak yakin nilai rapor bisa dimanipulasi terdiri atas 18 responden atau 4,4 persen yang menyatakan “sulit”, 41 responden atau 10 persen menyatakan sangat sulit dan 15 responden atau 3,7 persen menyatakan “mustahil atau tidak mungkin”.

“Ketika ditanya alasan mereka tak yakin nilai rapor bisa dimanipulasi, karena selama ini sudah memakai e-rapor, sehingga sulit atau tidak mungkin lagi dimanipulasi. Sedangkan guru yang yakin bisa dimanipulasi, ternyata sekolahnya belum pakai e-rapor atau mereka tahu banyak sekolah yang belum pakai e-rapor,” ujarnya.

Dari data yang ditelusuri, lanjut Ramli, diperoleh informasi bahwa siswa SD kelas 6 dan siswa SMP kelas 9 yang saat ini menghadapi PPDB masih banyak belum pakai e-rapor. “Baru 30-40 persen sekolah pakai e-rapor, karena itu penerimaan siswa baru lewat jalur prestasi tidak layak digunakan,” tuturnya.

Ditambahkan, sebagian guru menyatakan wali kelas dan kepala sekolah di SD dan SMP biasanya sulit menolak permintaan orang-orang tertentu untuk mengubah nilai rapor, apalagi disertai ancaman nasib mereka atau pendekatan “amplop” atau kedekatan personal.

“Ini sangat berbeda di jenjang SMA yang cenderung sulit diubah, apalagi orang tua tak perlu pusing lagi meski domisilinya jauh dari kampus. Karena anak mereka sudah relatif dewasa, selain itu kontrol kuat serta ancaman perguruan tinggi terhadap manipulasi nilai rapor juga terbilang sangat berat,” katanya.

Untuk itu, Ramli mengemukakan, IGI mengusulkan Mendikbud Nadiem Makarim untuk menghapuskan jalur prestasi dalam PPDB 2020 untuk tingkat SMP. Penggunaan jalur prestasi juga berpotensi membuat orang tua alami stres di tengah pandemi virus coroba (covid-19).

“Orang tua akan lebih stres jika anaknya s tidak dapat sekolah di jenjang berikutnya, dibanding berburu sekolah unggulan,” katanya.

Menggunakan sistem domisili dan Perpindahan orang tua 100 persen, maka semua urusan PPDB akan diatur oleh dinas pendidikan setempat. Orang tua akan menerima pemberitahuan dari dinas pendidikan setempat bahwa anak mereka dipastikan dapat sekolah negeri.

“Skema ini jauh lebih mudah jika memakai domisili masing-masing orang tua siswa dan langsung menentukan sekolah yang dituju,” kata Ramli menandaskan. (Tri Wahyuni)