Operasi Jantung di Masa Pandemi, Kenapa Tidak?

0
Ketua Siloam Heart Institute (SHI), Maizul Anwar dalam diskusi media secara virtual, Jumat (12/6/20). (suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Rumah sakit Siloam Kebon Jeruk (Bonjer) sejak beberapa bulan terakhir ini melakukan skrining ketat pada setiap pasien yang akan menjalani tindakan operasi. Jika hasil rapid test positif, maka pasien harus menjalani swab test.

“Bila hasil swab juga positif, maka operasi akan ditunda, hingga pasien dinyatakan bebas dari corona virus disease (covid-19). Pasien langsung dirujuk ke rumah sakit yang khusus menangani covid-19,” kata Ketua Siloam Heart Institute (SHI), Maizul Anwar dalam diskusi media secara virtual, Jumat (12/6/20).

Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu menjelaskan, pasien juga mendapat obat untuk jantungnya agar kesehatannya tetap stabil. Setelah dinyatakan bersih dari covid-19, pasien baru dapat menjalani operasi jantung sesuai diagnosis.

Skrining ketat tak hanya bagi pasien, lanjut Maizul, tetapi juga pada dokter, petugas kesehatan dan staf lainnya di RS Siloam Bonjer. Pemeriksaan secara berkala bagi petugas medis dan karyawan untuk memastikan keamanan dan kesehatan bersama.

“Karena itu, operasi jantung di masa pandemi seperti ini bisa dilakukan. Jangan tunda lagi atau merasa takut. Karena jaringan rumah sakit Siloam di seluruh Indonesia sangat ketat dalam menjalankan protokol kesehatan,” ucap Maizul menegaskan.

Ditanya apakah covid-19 juga berpengaruh terhadap operasional RS Siloam Bonjer, Maizul membenarkan hal itu. Terutama dua bulan setelah covid-19 dinyatakan pandemi oleh pemerintah.

“Manajemen rumah sakit saat itu tak ingin gegabah menghadapi pandemi covid-19. Akhirnya diputuskan menutup semua layanan operasi hingga 2 bulan kedepan, sambil menunggu keluarnya protokol kesehatan untuk rumah sakit,” ujarnya.

RS Siloam Bonjer kini sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat atas
tindakan operasi jantung, pelayanan konsultasi, penjadwalan bedah jantung, persiapan, rujukan serta tindakan lainnya.

“Kami akan terus memastikan pasien bisa mendapat penanganan jantung secara maksimal,” katanya.

Penyakit jantung harus mendapat perhatian karena hingga kini masih menjadi faktor penyebab nomor satu kematian di dunia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah setiap harinya.

Sementara Kementerian Kesehatan mencatat ada 1,5 persen atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia terkena penyakit jantung koroner. “Penyakit jantung yang paling umum terjadi adalah jantung koroner,” ujarnya.

Ditambahkan, kasus jantung koroner biasa dialami mulai usia produktif, yaitu termuda 31 tahun hingga 85 tahun. Untuk kasus usia di bawah 50 tahun, kejadian itu berhubungan erat dengan gaya hidup, seperti pola makan yang kurang baik, merokok, malas olahraga, hipertensi serta stres yang tinggi.

Selain itu, penyakit jantung koroner juga dapat terjadi karena hiperkolesterolemia atau gula darah tinggi karena pola makan yang tidak sehat. (Tri Wahyuni)