Optimalisasikan Big Data, TECH Bisa Prediksikan Karir Mahasiswa!

0

JAKARTA (Suara Karya): Di era teknologi informasi, data itu ibarat tambang minyak baru (data is the new oil). Seperti halnya minyak, data juga harus diolah lebih dahulu agar bisa memberikan manfaat optimal.

“Optimalisasi big data memberi beragam keuntungan dalam transformasi digital di sektor pendidikan,” kata Direktur Utama PT IndoSterling Technomedia Tbk (TECH), Billy Andrian dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Selasa (1/11/22).

Keuntungan dari optimalisasi big data, lanjut Billy, kampus bisa melakukan analisa minat dan potensi mahasiswa, prediksi karir mahasiswa, hingga prediksi program studi prospektif yang harus dikembangkan kampus di masa depan.

“Itu bisa menjadi solusi untuk mengurangi kesenjangan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan ekspektasi dunia industri,” ujarnya.

Billy menambahkan, digitalisasi sektor pendidikan tinggi seharusnya tak berhenti pada sistem pembelajaran online, tapi juga mencakup manajemen sistem administrasi di kampus hingga sistem pelaporan kampus ke Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Kemdikbudristek.

Belajar dari pengalaman tersebut, TECH mengembangkan platform teknologi pendidikan, Edufecta. Lewar platform tersebut, digitalisasi di sektor pendidikan tinggi itu bisa terintegrasi dari hulu ke hilir.

Pemanfaatan Edufecta semakin luas berkat kolaborasi TECH dengan sosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi). Dalam 10 tahun terakhir ini, flatform tersebut telah digunakan sekitar 1000 kampus di Indonesia.

“Awalnya sistem kami buat personal pada setiap kampus. Namun, sejalan dengan waktu kami tahu kebutuhan kampus pada hal apa saja. Itulah yang dikembangkan dalam Edufecta,” tuturnya.

Edufecta merupakan inovasi digital yang dikembangkan TECH, perusahaan publik yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode TECH. Saham pengendalinya dimiliki Sean William Henley, sebagai salah satu anak usaha IndoSterling Group.

CEO Edufecta, Ucu Komarudin menambahkan, kampus bisa menggunakan big data untuk
memahami pengalaman belajar mahasiswa. Ini menjadi basis bagi dosen untuk membuat skema pembelajaran yang lebih efektif.

“Hal itu termasuk modifikasi sistem pendidikan agar mahasiswa dapat manfaat optimal dalam proses belajar,” ujarnya.

Big data yang merekam proses belajar mahasiswa juga memungkinkan dosen atau kampus memahami pencapaian mahasiswa baik secara individu maupun kolektif.

Data hasil penilaian mahasiswa di berbagai mata kuliah, juga menjadi insight tentang kekuatan dan
kelemahan masing-masing individu dalam suatu objek.

“Jika data tersebut diakumulasikan dari semester ke semester, maka bisa diperoleh pola minat maupun kemampuan mahasiswa. Data itu bisa menjadi panduan karir mahasiswa setelah lulus kuliah.

Tak hanya itu, lanjut Ucu, ‘big data analysis’ juga bisa digunakan kampus untuk memetakan pola
program studi berdasar minat pendaftaran mahasiswa, sehingga bisa didapat gambaran tentang program studi apa yang prospektif untuk dikembangkan ke depan.

Menurut Ucu, digitalisasi Pendidikan secara komprehensif dari hulu ke hilir terbukti membantu pengembangan kampus-kampus yang ada di luar wilayah Jawa-Bali.

Hasilnya, tak sedikit kampus yang naik peringkat akreditasinya, dari sebelumnya berakreditasi C menjadi B, bahkan kemudian naik lagi ke akreditasi A.

“Hal itu menunjukkan pentingnya perluasan digitalisasi kampus dari hulu ke hilir agar pendidikan di seluruh Indonesia makin berkualitas,” kata Ucu menandaskan. (Tri Wahyuni)