Pakar: Pentingnya Bangun Kembali Sinergi Rumah dan Sekolah Pascapandemi

0

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi corona virus disease (covid-19) yang melanda Indonesia dalam tiga bulan terakhir ini, memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya membangun sinergi antara rumah dan sekolah. Karena, selama ini sekolah tidak masuk bagian dari rumah.

“Hal itu bisa terjadi, karena rumah selama ini hanya menjadi persinggahan semata, bukan bagian dari persemaian anak-anak. Orangtua jadi tergagap-gagap saat harus mendidik anaknya, ketika peran sekolah tiba-tiba hilang,” kata Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Desvian Bandarsyah.

Pernyataan Desvian mengemuka dalam webinar bertajuk “Wajah Baru PAUD di Indonesia Pascapandemi Covid-19: Sinergi Sekolah dan Keluarga” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Uhamka Jakarta, Sabtu (16/5/20).

Untuk itu, Desvian menilai, perlunya melakukan perbaikan hubungan antara rumah dengan sekolah. Sehingga hubungan keduanya menjadi saling menopang dan komplementer.

Seperti diberitakan sebelumnya, pandemi covid-19 di Indonesia tak hanya meluluhlantakan perekonomian dalam negeri, tetapi juga dunia pendidikan. Karena setiap orang diminta untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah untuk mencegah penularan covid-19 semakin meluas.

Kebijakan untuk belajar dari rumah, lanjut Desvian, membuat orangtua mendadak berperan sebagai guru. Karena pembelajaran daring yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan belajar dari rumah tidak berjalan optimal. Kebijakan itu terkendala sarana dan sumber daya manusia.

“Guru yang biasanya tak pernah pakai teknologi saat mengajar, tiba-tiba harus pembelajaran daring. Tentu saja tergagap-gagap. Apalagi banyak guru yang tak punya sarana pendukung untuk itu seperti laptop atau jaringan internet,” katanya.

Perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia itu, menurut Desvian, tentu saja mempengaruhi kualitas hubungan anak dengan orangtuanya. Apalagi banyak orangtua yang kurang intens mendampingi anak saat belajar di rumah.

“Peran orangtua selama anak belajar di rumah diharapkan membawa pengaruh positif dalam mengeratkan kualitas anggota keluarga. Karena itu penting bagi orangtua untuk mulai memperbaiki diri demi masa depan yang lebih baik bagi anaknya,” katanya.

Desvian menilai, gagasan trilogi pendidikan yaitu sekolah-keluarga-masyarakat selepas pandemi penting untuk dimaknai kembali. Rumah dan sekolah perlu membangun komunikasi dan tradisi baru secara intens, dengan melepas kekakuan relasi keduanya seperti berlangsung selama ini.

“Di tengah ketidakberdayaan banyak hal, posisi rumah dan sekolah menjadi strategis untuk menjalankan misi menjaga perkembangan anak usia dini sebagai generasi bangsa masa depan,” ucap Desvian menandaskan.

Hal senada dikemukakan Wakil Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA) Majelis Dikdasmen Aisyiyah, Chandrawaty. Katanya, lembaga PAUD perlu mengubah pola pikirnya pascapandemi covid-19.

“Sebagai pengelola PAUD, mulai dari sekarang kita harus memperhatikan generasi digital. Guru juga punya tantangan sendiri agar tak gagap teknologi. Pemanfaatan teknologi harus bagian dalam pengelolaan PAUD,” kata Chandrawaty menegaskan. (***)