Pandemi Berdampak pada Indeks Pembangunan Pemuda, Turun 1,67 Poin

0

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun terakhir ini, ternyata berdampak pada Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2021. Penurunan terjadi sekitar 1,67 poin dari 52,61 pada 2019 menjadi 51,00 pada 2020.

Hal itu dikemukakan Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjoko dalam webinar bertajuk ‘Dialog Nasional Pemuda: Bersatu, Bangkit dan Tumbuh Membangun Pemuda Tangguh’, Rabu (15/12/21).

Acara tersebut digelar bersama Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan Kemenpora, Kemendagri, Kemenko PMK dan didukung Program Kerjasama Pemerintah RI-UNFPA Indonesia.

Subandi menjelaskan, IPP dipetakan dalam 5 domain yaitu, pendidikan; kesehatan dan kesejahteraan; lapangan dan kesempatan kerja; partisipasi dan kepemimpinan; serta gender dan diskriminasi.

“Dampak signifikan pandemi covid-19 terutama pada indikator tingkat pengangguran terbuka pemuda dan wirausaha kerah putih dalam domain lapangan dan kesempatan kerja,” ucapnya.

Pandemi, lanjut Subandi, juga berpengaruh pada indikator perempuan bekerja di sektor formal yang merupakan salah satu indikator penyusun domain gender dan diskriminasi.

Penurunan capaian IPP secara nasional juga berdampak terhadap berkurangnya disparitas capaian IPP antarprovinsi. Untuk itu, guna mencapai target IPP pada RPJMN 2020-2024 sebesar 57,67 dibutuhkan tak hanya kerja keras, tetapi juga inovasi dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah.

“Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan kepemudaan. Keterlibatan pemuda diperlukan tak hanya merespon krisis, tetapi juga dapat berperan dalam pembangunan,” katanya.

Dialog nasional pemuda tak hanya mnyampaikan hasil laporan IPP 2021 dan analisis dampak pandemi covid-19, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai peran stakehoder dalam koordinasi strategis lintas sektor penyelenggaraan pelayanan kepemudaan.

“Lewat dialog ini, kami ingin memberi gambaran nyata keterlibatan pemuda dalam berbagai isu sosial pembangunan terutama di masa pandemi,” kata Subandi menegaskan.

Webinar membahas keterlibatan pemuda dalam pembangunan, tak saja sebagai penerima manfaat melainkan juga sebagai mitra dan inovator dalam pembangunan. Kegiatan itu diharapkan menjadi momentum berbagai pihak untuk mulai berinvestasi pada pemuda, dimulai dengan memastikan partisipasi pemuda yang bermakna dalam berbagai program sosial kemasyarakatan.

“Pembangunan pemuda merupakan agenda strategis bagi Indonesia, terutama dalam merespon krisis pandemi covid-19,” tuturnya.

Pemuda, menurut Subandi, dengan jumlah 1 dari 4 penduduk Indonesia memiliki peran penting. Yaitu, sebagai kelompok usia produktif dan dapat berperan aktif sebagai pemikir kritis, pembuat perubahan, sebaga innovator, communicator, bahkan leaders untuk meningkatkan IPP.

“Karena itu, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 (RPJMN 2020-2024) dan Rencana Kerja
Pemerintah 2022 (RKP 2022) memberi prioritas tersendiri atas pembangunan pemuda,” ucap Subandi.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jonni Mardizal menekankan, Pemerintah tengah melakukan finalisasi atas Rencana Aksi Nasional (RAN) Pelayanan Kepemudaan 2021-2024 sebagai bagian yang tak terpisahkan dari revisi Perpres Nomor 66 tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Pelayanan Kepemudaan.

Sementara Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Anjali Sen, menyoroti pentingnya keterlibatan pemuda di tingkat lokal, nasional, dan global dalam memperkaya berbagai proses kebijakan bagi pembangunan nasional dan internasional.

Narasumber lain dalam dialog tersebut, antara lain, Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur SUPD IV, Kementerian Dalam Negeri, Zanariah, dan akademisi dari SDG’s Center Unpad, Prof Zuzy Anna. (Tri Wahyuni)