Pasien Covid-19 Melonjak, Kemkes Minta RS Tambah Tempat Tidur

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemkes) meminta rumah sakit (RS) menambah persediaan tempat tidur, seiring dengan makin melonjak kasus positif corona virus disease (covid-19) di Indonesia.

Dirjen Pelayananan Kesehatan Kemkes Abdul Kadir dalam siaran pers, Sabtu (23/1/21) mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan Surat Edaran Nomor HK 02.01/Menkes/11/2021 tentang Peningkatan Kapasitas Perawatan Pasien Covid-19 pada RS Penyelenggara Pelayanan Covid-19.

“Penambahan tempat tidur menjadi penting agar pasien bisa ditangani dengan baik, guna menekan angka kematian,” ujar Abdul Kadir dalam acara dialog bertajuk “Kesiapan Rumah Sakit Tangani Pasien Covid-19” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Disebutkan, saat ini rumah sakit di seluruh Indonesia berjumlah 2.979 dengan 81.032 tempat tidur. Jumlah itu disiapkan untuk pasien Covid-19, baik untuk isolasi maupun ICU per 21 Januari 2021.

“Jika kita bandingkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit saat ini yang mencapai 52.719 pasien. Itu artinya, rata-rata keterpakaian tempat tidur masih b di posisi 64,83 persen secara nasional,” ujarnya.

Namun, lanjut Abdul Kadir, jika dilihat secara spesifik per kota atau per provinsi maka ada beberapa daerah yang rata-rata keterpakaian tempat tidurnya sudah 80- 88 persen.

Ia mencontohkan Provinsi DKI Jakarta, yang mana saat ini hanya tersisa 63 tempat tidur. Secara umum, kondisi itu mengkhawatirkan karena peningkatan pasien begitu banyak setiap hari. Ada kemungkinan pasien tidak tertampung dalam benerapa minggu kedepan.

Karena itu, lanjut Abdul Kadir, Menteri Kesehatan melakukan antisipasi dengan mengeluarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor HK 02.01/Menkes/11/2021 yang isinya meminta seluruh rumah sakit di Indonesia untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur.

Peningkatan kapasitas tempat tidur dapat dilakukan dengan cara mengkonversi persediaan tempat tidur. Itu artinya mengubah fungsi tempat tidur di rumah sakit sebelumnya untuk layanan umum menjadi layanan untuk covid-19.

“Untuk daerah zona merah, diharapkan kenaikan jumlah tempat tidur antara 30-40 persen. Tentunya permintaan surat edaran tidak hanya berlaku untuk rumah sakit pemerintah, tapi juga semua rumah sakit umum daerah, RS TNI-Polri, kementerian dan rumah sakit swasta,” tuturnya.

Ditambahkan, konversi tak hanya berlaku untuk tempat tidur tetapi juga ruang ICU atau intensive care unit sebanyak 25 persen. Konversi tempat tidur itu akan berimplikasi terhadap kecukupan SDM kesehatan.

“Adanya perubahan ini, maka komposisi tenaga kesehatan di rumah sakit juga akan berubah. SDM kesehatan yang bekerja di ruang rawat biasa dialihkan ke ruang ICU untuk perawatan pasien covid-19.

“Menteri Kesehatan mengeluarkan surat edaran tersebut untuk memberi relaksasi ke semua tenaga kesehatan kita yang baru tamat pendidikan, tapi belum bisa melakukan pekerjaan sebagai perawat. Karena belum mempunyai STR atau surat izin praktek. Mereka dapat diberdayakan tanpa mempunyai STR,” ujarnya.

Dijelaskan, sebelum tugas para perawat tersebut mendapat pelatihan terlebih dahulu. Terutama pengetahuan tentang penyakit covid-19 agar mereka tidak tertular,” ujarnya.

“Mereka diberi pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian covid-19, cara penggunaan alat pelindung diri. Mereka juga tidak akan dibiarkan sendirian. Ada pendampingan dari para senior dan supervisi oleh dokter. Sehingga mereka memiliki kemampuan dalam merawat pasien covid-19,” tuturnya.

Ditambahkan, Kemkes juga meyakinkan semua rumah sakit untuk persediaan logistik, obat-obatan, APD, Reagen itu minimal hingga 3 bulan ke depan.

“Kita melakukan pelayanan pasien covid-19, tanpa mengesampingkan pasien non covid-19. Apalagi pasien yang penyakit komorbid seperti hipertensi, jantung, diabetes mellitus dan penyakit katastropik lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, pihaknya hanya meminta penambahan tempat tidur di seluruh rumah sakit di Kabupaten Tangerang minimal 30 persen. “Tetapi jika sanggup 40 persen itu bagus,” ujarnya.

Adanya relaksasi SDM kesehatan, menurut Zaki, diharapkan membantu tenaga kesehatan yang saat ini sedang bekerja. Kecukupan SDM kesehatan penting agar mereka tidak kelelahan dan jenuh saat bekerja.

Tak Kabupaten Tangerang, tenaga kesehatan yang direlaksasi sudah tersalurkan ke Wisma Atlet. Beberapa perawat maupun dokter internsip yang difasilitasi Kemkes kini sudah bekerja di Wisma Atlet.

Komandan Lapangan RS Darurat Wisma Atlet Kolonel Laut, Tjahja Nurrobi mengatakan, upaya yang dilakukan untuk mengurangi kelelahan SDM kesehatan di Wisma Atlet dengan memberlakukan 5 shift dalam 1 hari. “Penambahan tenaga kesehatan sangat membantu layanan agar lebih optimal,” katanya. (Tri Wahyuni)