PAUD Usia 3-5 Tahun Masuk Pendidikan Formal, Himpaudi Syukuran di Monas!

0

JAKARTA (Suara Karya): Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) menggelar syukuran di lapangan Monas, setelah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menetapkan PAUD usia 3-5 tahun menjadi pendidikan formal.

“Dengan demikian, pendidik PAUD usia 3-5 tahun yang dulu disebut nonformal, kini masuk kategori guru,” kata Ketua Umum Himpaudi, Prof Netti Herawati kepada wartawan disela acara syukuran dan peringatan HUT ke-17 Himpaudi di lapangan Monas, Rabu (31/8/22).

Prof Netty saat itu didampingi Direktur Guru PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Kemdikbudristek, Santi Ambarrukmi.

Ditambahkan, status penetapan guru nonformal itu tertuang dalam RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang saat ini diajukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Kebudayaan (Kemdikbudristek) ke DPR RI agar masuk dalam Program Legilasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2022.

“Kami bahagia karena RUU Sisdiknas telah meningkatkan status PAUD nonformal menjadi formal. Sehingga pendidik PAUD usia 3-5 tahun disebut guru,” ujar Prof Netty dengan nada suara gembira.

Sebagai informasi, sebutan PAUD formal untuk Taman Kanak-Kanak (TK), sedangkan PAUD nonformal untuk kelompok bermain, Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD sejenis. “Perbedaan sebutan untuk pendidik di PAUD nonformal merupakan bentuk diskriminasi terhadap hak-hak pendidik PAUD nonformal,” ujarnya.

Padahal, lanjut Prof Netty, baik guru PAUD formal maupun nonformal menjalankan tugas yang sama dalam mengusung mutu pendidikan. Dari segi jumlah, satuan PAUD nonformal memiliki murid yang lebih banyak, dibanding PAUD formal.

Data statistik PAUD tahun 2021/2022 yang dikeluarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemdikbud menyebutkan, jumlah PAUD saat ini ada 189.503 buah. Dari jumlah itu, 51,88 persen adalah satuan PAUD Nonformal.

Jika dilihat dari jumlah murid PAUD, tercatat ada 9,4 juta orang. Dari jumlah itu, 61,65 persen murid berasal dari PAUD nonformal. Sedangkan jumlah pendidik PAUD sebanyak 683.817 orang, yang mana 46,88 persen adalah pendidik PAUD nonformal.

“Merujuk pada data Pusdatin, lebih dari 61,65 persen murid PAUD nonformal berisiko mendapat kualitas pembelajaran yang mutunya lebih rendah dari PAUD formal. Alasannya, menurut para ahli, kapasitas kecerdasan anak bertambah 50 persen untuk rentang usia 0-4 tahun dan hanya bertambah 30 persen pada rentang usia 4-8 tahun.

“Masa anak usia 0-8 tahun disebut para ahli sebagai ‘golden age’, yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia,” tutur Prof Netty.

Jika pendidik PAUD nonformal tidak diakui profesinya sebagai guru, yang berarti tidak mendapat hak-hak profesionalnya, maka hal itu akan berdampak terhadap mutu pembelajaran yang diberikan ke peserta didik.

Hal itu secara berkelanjutan juga berdampak terhadap mutu peserta didik saat di jenjang SD, SMP dan SMA, bahkan perguruan tinggi.

“Setelah 17 tahun melawan ketidaksetaraan Guru PAUD nonformal, bahkan hingga ke Mahkamah Konstitusi, akhirnya RUU Sisdiknas yang saat ini diajukan Kemendikbudristek ke DPR RI telah memuat beberapa hal yang kami harapkan,” ucapnya.

Pada pasal 24 RUU Sisdiknas dinyatakan, PAUD usia 3-5 tahun memiliki kedudukan yang sama dengan PAUD formal. Pada pasal 108 memberi pengakuan status profesi guru pada pendidik yang melayani anak usia 3-5 tahun. (Tri Wahyuni)