Ketua BAZNAS Pertama Wafat, Dzikir dan Doa Bersama Diselenggarakan Secara Online

0
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, M Fuad Nasar sedang membaca Buku karya Alm Achmad Subianto, "Jembatan Kehidupan Achmad Subianto, Jejak Pengabdian Seorang Abdi Negara". (Foto: Ist./BAZNAS)

JAKARTA (Suara Karya): Achmad Subianto, Ketua Umum BAZNAS pertama wafat di Rumah Sakit Puri Kembangan, Jakarta pada Selasa (23/6). Menghindari penumpukan pelayat, BAZNAS menyelenggarakan Acara Dzikir dan Doa Bersama Keluarga Besar BAZNAS secara online dan disiarkan melalui kanal youtube BAZNAS TV.

Hadir dalam acara tersebut dari kediaman masing-masing, Ketua BAZNAS, Prof Bambang Sudibyo; segenap anggota dan Direksi BAZNAS, Ketua Umum BAZNAS periode 2003-2015 Prof Dr KH Didin Hafidhuddin serta Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, M Fuad Nasar.

Achmad Subianto menjabat sebagai Ketua BAZNAS selama tiga tahun yakni 2001-2003 kemudian menjadi Ketua Komisi Pengawas hingga 2008.

Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo menyampaikan rasa duka mendalam mewakili Keluarga besar BAZNAS se-Indonesia.

“Innalillahi wa innailaihi raji’un telah wafat putra terbaik pejuang zakat yang sangat besar jasanya, Ketua BAZNAS pertama 2001-2003, Bapak Achmad Subianto,” katanya.

Ia berkisah, mengenal sosok Achmad Subianto sejak menjadi Menteri Keuangan di era Presiden Abdurrahman Wachid. Saat itu diminta mencari sosok yang tepat untuk memimpin BAZNAS pada awal terbentuk lembaga ini setelah terbitnya Undang-undang no.38 tahun 1999 dan Keputusan Presiden no.8 tahun 2001.

“Memilih Pak Achmad Subianto sebagai Ketua Umum BAZNAS yang pertama merupakan sebuah pilihan tepat sebab beliau memiliki kompetensi perzakatan. Jasa beliau pada gerakan perzakatan sangat besar. Kami semua berhutang budi kepada beliau,” katanya.

Achmad Subianto lahir di Cilacap pada 1946. Karirnya sebagai salah seorang pakar dan praktisi ekonomi di Indonesia dimulai setahun setelah menamatkan pendidikan formal di Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang (1971) dengan menjadi pegawai di Departemen Keuangan RI, tepatnya di Direktorat Jendral bidang Moneter.

Pada 1977, Achmad Subianto berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat magister di Syracuse University, New York, Amerika Serikat. Sebelum membidani BAZNAS, ia menjabat sebagai Direktur Keuangan, Administrasi dan Sumber Daya PT Garuda Indonesia, Sekretaris Utama Kementrian Sekretaris Negara dan BUMN (1998 – 2000) dan Presiden Direktur PT TASPEN pada 2002.

Prof KH Didin Hafidhuddin mengatakan, keluarga besar BAZNAS kehilangan seorang mujahid zakat yang gigih memperjuangkan keberadaan BAZNAS.

“Di saat kaum muslim belum tahu amil zakat karena masih terbiasa dengan penyaluran langsung dari muzaki kepada mustahik. Ide untuk menghadirkan amil zakat yang representatif dan terpercaya,” katanya.

Almarhum merupakan sosok yang pertama kali menggagas dan mengenalkan Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ) pada tahun 2001-2002.

“Semua perhatiannya hanya untuk kepentingan umat dan bangsa.Ia seorang pengurus yang jujur dan memiliki soliditas luar biasa dengan para pejuang zakat. Karyanya kini, BAZNAS, telah menjelma menjadi pengelola zakat yang terpercaya di Indonesia bahkan dunia,” katanya.

Sementara itu Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Fuad Nasar mengatakan Achmad Subianto merupakan tokoh yang tak pernah berhenti berfikir untuk umat. (Pramuji)