Pelajar Indonesia di Belanda Paparkan Kajian Ilmiah Inspiratif

0

JAKARTA (Suara Karya): Pernahkah kita melihat atau mungkin mengikuti sesi presentasi ilmiah dimana semua peserta terlihat serius dan diskusi terasa sangat berat dan kompleks ditambah dengan sajian berupa grafik, dan bagan yang belum-belum sudah kita membuat ciut.

Pernah kah kita mengalami situasi dimana berkali-kali kita melihat jam tangan karena ingin cepat selesai mengikuti forum ilmiah apalagi ketika topiknya asing bagi kita, yang terjadi di sesi “StuNed Talks” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan StuNed Day 2019, di Aula Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), di Den Haag, Belanda, Kamis (7/3/2019).

Suasana ceria, penuh inspirasi dan sarat pengetahuan baru serta pesan positif sangat mewarnai StuNed Day tahun ini.
Delapan pelajar Indonesia penerima beasiswa StuNed yang masih menyelesaikan studinya di berbagai universitas di Belanda menyuguhkan suatu sajian ilmiah yang segar ,‘menghibur’ sekaligus menginspirasi.

Begitulah terobosan cerdas serta brilliant dari para StuNed awardees yang menggelar ‘lapak ilmiah’ mereka di StuNed Day 2019. Hanya bermodalkan selembar karton, kedelapan topik ilmiah tersebut diramu dan disajikan dengan ciamik, lugas, bernas, namun casual dan fun sehingga mudah untuk diserap oleh semua peserta yang berasal dari berbagai bidang ilmu.

Para peserta forum ilmiah itu dengan penuh antusiasme mendengarkan dengan seksama dan berpindah secara teratur dari satu presentasi ke presentasi lainnya, dari satu topik ke topik selanjutnya. Fomat paparan yang disajikan mirip acara speed dating ini mampu menstimulasi peserta untuk berlomba mengajukan pertanyaan sehingga kadang pada saat bel dibunyikan pertanda perpindahan peserta ke pemapar selanjutnya, para pemapar masih sibuk melayani pertanyaan yang bertubi-tubi.

Sungguh mencengangkan melihat seorang mahasiswa program hukum yang dengan sangat antusias dan wajah penasaran membombardir pemapar yang menggelar materi tentang tentang konsep neural network dan persamaan matematika tingkat dewa! Juga ketika seorang mahasiswa bidang matematika yang merasa terharu karena baru kali ini ia melihat mata-mata berbinar para peserta forum yang sebagian besar adalah para pelajar ilmu hukum dan ilmu sosial pada saat mendengarkan paparan 8 menitnya tentang machine learning, Atau ketika semua sepakat bahwa pemaparan tentang hama pada tanaman tomat mampu disajikan lebih entertaining dibandingkan dengan stand-up comedy di program televisi.

Juga ketika paparan tentang port management menjadi sajian yang sangat renyah dan gurih untuk dinikmati sampai remah-remahnya dan jauh dari bayangan paparan engineering yang ‘njlimet’. Delapan paper ilmiah dari delapan penelitian berbeda para StuNed awardees itu, meyakinkan kita untuk tidak lagi melihat ilmu pengetahuan dengan sekat sekat ego sektoral, melainkan dengan positive attitude yaitu keterbukaan dan kesadaran bahwa tidak ada ilmu yang berdiri sendiri; bahwa ilmu hanya akan dapat terimplementasi untuk memberikan dampak positif jika dipadukan, dan diharmonisasikan dengan ilmu lainnya. Hal ini sesuai dengan tema peringatan 20 tahun Beasiswa StuNed yaitu “20 Years of StuNed – It’s about Impact!”

Acara yang digagas dan dimoderasi oleh Muhammad Ulil Ahsan, salah seorang penerima beasiswa StuNed yang juga sedang menyelesaikan studinya di Wagenigen Univesity and Research menegaskan bahwa kadang bukan kemampuan akademik yang menjadi masalah bagi para peneliti dan pelajar Indonesia , namun kurangnya keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil, dan berbagi tentang pemikiran akademis dan ide-ide inovatifnya.

Studi di Belanda justru memberikan ruang terbuka bagi para pelajar untuk membuka ‘lapak’nya dimanapun mereka berada. Di akhir acara semua sepakat bahwa seorang pembelajar sejati bukanlah mereka yang hanya hebat ilmunya ,namun mereka yang memilki kearifan untuk membuka diri terhadap ilmu lainnya. (Pramuji)