Pelaku Usaha Perlu Terlibat dalam Pengurangan Emisi Karbon

0

JAKARTA (Suara Karya): Pelaku usaha diserukan untuk bertransformasi menjalankan bisnis yang rendah karbon dan terlibat aktif dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Keterlibatan pelaku usaha sangat penting dan bisa menjadi penentu dalam upaya global menghentikan bencana perubahan iklim,” kata Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Justianto dalam sesi diskusi panel bertajuk ‘Achieving Net Zero Emission: A High Call for Urgency from Business Perspectives’ di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP27 UNFCCC, di Sharm El Sheikh, Mesir, Rabu (9/11/22).

Ia menjelaskan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) yang menjadi komitmen ambisius Indonesia dalam pengurangan emisi karbon.

“Ambisi Indonesia masih bisa ditingkatkan dengan keterlibatan semua pihak, termasuk pelaku usaha untuk memastikan keselamatan dunia dari bencana iklim,” ujarnya.

Merujuk pada dokumen Enhanced NDC, Indonesia akan meningkatkan target pengurangan emisi GRK pada tahun 2030 dari 29 perswb menjadi 31,89 persen dengan upaya sendiri, atau dari 41 persen menjadi 43,20 persen dengan dukungan Internasional.

“Saat ini merupakan kesempatan melakukan transformasi sistem ekonomi Indonesia menuju rendah karbon. Untuk itu pelaku usaha diharapkan bergerak dan berinvestasi pada model bisnis sirkular,” ujarnya.

Sirkular ekonomi akan mendorong usaha regeneratif dan memperkuat upaya perlindungan, mendukung pengelolaan lingkungan dan masyarakat dalam rantai binisnya.

Agus mengingatkan, dunia sudah setuju untuk mencapai net zero emission pada 2050. Sejumlah pelaku bisnis, termasuk di Indonesia bahkan sudah menyatakan komitmennya untuk mencapai target tersebut.

Ia berharap semakin banyak pelaku usaha yang mencanangkan komitmen itu di Indonesia.

Chief Sustainability Oficer APP Sinar Mas Elim Sritaba mengatakan, APP Sinar Mas berkomitmen untuk pengurangan emisi karbon dan berkontribusi terhadap ekonomi global sirkular, dengan memproduksi produk kertas secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Kami tidak dapat melanjutkan bisnis seperti biasa. Perlu terobosan. Dari proses produksi, kami tingkatkan efisiensi energi, mengurangi konsumsi air dan zero waste di tempat pembuangan akhir. Itu target kita dari sisi karbon footprint,” ucap Elim menegaskan.

Ia mencontohkan, tiga elemen dekarbonisasi yang utama yaitu adanya efisiensi operasional dan peralatan, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dalam ‘power boiler’ dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil di tempat lain.

Upaya yang sudah dilakukan saat ini menghasilkan prestasi yang baik dan memperoleh rating ‘low risk’ untuk ESG di PT OKI Pulp and Paper Mills yang tercatat menggunakan energi cukup rendah.

“Pabrik OKI dirancang dengan visi circular economy, jadi bisa menggunakan 95 persen energi terbarukan dan menerapkan kemajuan teknologi untuk efisiensi energi. Ini merupakan bukti nyata dari komitmen kami mendukung transisi energi secara adil dan ambisius,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Silverius Oscar Unggul mengatakan Kadin tengah mengembangkan Net Zero Hub untuk mendorong pelaku usaha di Indonesia untuk mewujudkan Net-Zero Emission.

Khusus untuk sektor hulu, Kadin mengembangkan Regenerative Forest Business Sub Hub (RFBSH). “Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong perbaikan tata kelola bisnis di sektor kehutanan dan pengelolaan lahan untuk meningkatkan penyerapan emisi gas rumah kaca,” kata Silverius Oscar.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Haruni Krisnawati mengingatkan perubahan iklim akan berdampak buruk pada kehidupan manusia. Karena itu, sektor swasta dapat berperan dalam mendukung target pengurangan emisi karbon yang sudah ditetapkan dalam NDC.

“Aksi multipihak, kolektif dan terintegrasi menjadi satu-satunya jalan untuk mengatasi ancaman perubahan iklim,” katanya.

Peneliti Pusat Studi Kehutanan Internasional (CIFOR) Daniel Mudyarso mengingatkan pencapaian target Net-Zero Emission oleh pelaku usaha di Indonesia harus dimulai dari sektor hulu. (Tri Wahyuni)