Peleburan Kemdikbudristek Diharapkan Perkuat Riset di Perguruan Tinggi

0

JAKARTA (Suara Karya): Peleburan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) diharapkan dapat memperkuat riset dan inovasi di perguruan tinggi. Karena kampus juga memiliki beragam riset dan inovasi yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

“Keberadaan Kemdikbudristek harus memberi arti bagi pengembangan riset dan inovasi di perguruan tinggi,” kata Rektor Universitas Pertamina (UP) Prof I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja dalam diskusi bertajuk ‘Peleburan Kemendikbud dan ristek bagi Perguruan Tinggi” secara daring, Senin (31/5/2021).

Ditambahkan, Indonesia sebenarnya memiliki kinerja yang baik dalam keluaran riset dan inovasi. Rangking input inovasi Indonesia berada di urutan ke-91 dan urutan ke-76 untuk keluaran inovasi.

“Data itu menunjukkan, optimisme kita untuk memperkuat budaya riset dan inovasi masih cukup tinggi. Lalu, apa tantangan untuk meningkatkan riset dan inovasi di Indonesia,” ujar Prof Wirat mempertanyakan.

Ia menyebut, dana riset yang dialokasikan negara masih belum optimal. Dengan total penduduk hingga 270 juta jiwa, Indonesia hanya mengalokasikan dana riset sebesar 2 miliar dollar. Sedangkan Malaysia dengan 32 juta penduduk, dana riset yang dialokasikan mencapai 9,7 miliar dollar.

“Korea Selatan bahkan lebih tinggi lagi. Dengan total penduduk 51 juta jiwa, dana yang alokasikan mencapai 73 miliar dollar,” katanya.

Pernyataan tersebut dibenarkan anggota Komisi X DPR RI, Andreas Hugo Pareira. Dana riset itu malah menyebar di masing-masing kementerian atau lembaga. Pada akhirnya, dana itu terpakai untuk kegiatan operasional, yang bukan bagian dari penelitian,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Andreas, saat ini tengah dikaji strategi APBN 2022 agar dilakukan sentralisasi untuk dana riset. Harapannya dana tersebut bisa terserap lebih besar di Kemdikbudristek.

Prof Wirat menambahkan, adanya peleburan Kemdikbudristek, diharapkan dana yang ada dapat memperkuat riset dan inovasi di Indonesia. Budaya riset dan inovasi juga harus terus didorong, terutama di perguruan tinggi.

Ia mencontohkan, Universitas Pertamina. Dosen di perguruan tinggi tersebut digalakkan untuk dapat hibah penelitian, baik internal maupun eksternal. Para mahasiswa juga didorong mengikuti kompetisi riset di berbagai level, dan diikutsertakan dalam berbagai proyek penelitian gagasan para dosen.

Alhasil, di usia yang baru menginjak tahun ke-5, lanjut Prof Wirat, Universitas Pertamina berhasil menduduki posisi ke-80 sebagai perguruan tinggi dengan produktivitas publikasi riset terbaik di level nasional versi Website Science and Technology Index (SINTA) milik Kemenristek BRIN.

“Mahasiswa kami juga berhasil meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional dalam penelitian. Keberhasilan ini diharapkan juga diraih perguruan tinggi lain, sehingga tumbuh budaya riset dan inovasi di kampus-kampus di seluruh Indonesia,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)