Pembelajaran Daring di Indonesia Baru Sekadar Pindah Ruang Belajar

0

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji mengkritisi model pembelajaran daring di Indonesia. Tak ada pembaruan didalamnya. Baru sekadar memindahkan ruang belajar dari kelas ke rumah, dengan memanfaatkan teknologi.

“Model pembelajaran daring kita, ternyata tak beda jauh dengan luring (offline) atau tatap muka di kelas. Komunikasi antara guru dengan murid masih satu arah. Guru menerangkan, siswa diminta menyimak meski pakai teknologi,” kata Indra di Jakarta, Minggu (5/4/20).

Kegagapan sekolah akan pembelajaran daring terlihat dalam 3 minggu belakangan ini, saat sekolah diliburkan pemerintah untuk mencegah penularan virus corona (covid-19) ke para siswa. Selama masa libur itu, sekolah diminta menggelar pembelajaran daring.

“Sekolah setingkat SPK (satuan pendidikan kerjasama) saja, yang akrab dengan teknologi itu mengaku kelimpungan bagaimana mengisi masa libur ini. Bagaimana nasib sekolah-sekolah yang miskin fasilitas. Guru akhirnya memberi anak banyak pekerjaan rumah (PR),” tuturnya.

Menurut Indra, guru seharusnya tak memberi penjelasan melalui aplikasi konferensi video saat pembelajaran daring, seperti dilakukan selama ini. Pola belajar memanfaatkan teknologi dan internet ini juga tak perlu menggunakan konten pembelajaran animasi yang tidak perlu.

“Model pembelajaran daring seharusnya berorientasi pada kemampuan siswa memecahkan masalah, kritis, kolaboratif, komunikatif, kreatif, dan inovatif. Guru harus jadi fasilitator dan motivator bagi siswa, bukan menjelaskan materi yang siswa bisa baca dibuku atau cari di google,” katanya.

Melihat kegagapan itu, Indra mengaku terdorong untuk membangun kemitraan internasional dengan kampus terbaik di Amerika, Arizona State University. Ini kesempatan bagi para pendidik maupun siswa di Indonesia untuk belajar langsung dari pakarnya.

Ditambahkan, dengan biaya sekitar Rp500 ribu per bulan, baik guru maupun siswa dapat prmbelajaran yang membantu siswa bagaimana memecahkan masalah, kritis, kolaboratif, komunikatif, kreatif dan inovatif. Ini penting agar siswa siap menghadapi pembelajaran abad 21.

“Siswa juga dilatih membuat project baik personal maupun tim. Jadi tak sekadar mendengar guru berbicara secara teleconference, lalu itu disebut sebagai pembelajaran daring,” ujarnya.

Peluncuran program pembelajaran daring kerja sama CERDAS dengan Arizona State University, Amerika telah diluncurkan sejak 1 April 2020 lalu, lewat teleconference. Program pembelajaran itu didukung teknologi dan materi dari The Urban Green Education Project dan Lincoln Learning Solutions, Amerika.

Ditambahkan, program kerjasama dengan Arizona State University itu tersedia untuk jenjang Taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi. Bahkan, bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), bisa dapat dua ijazah sekaligus. Syaratnya siswa harus lulus dari sekolah yang ada di Indonesia.

“Karena pembelajaran daring ini fokus pada peningkatan kemampuan anak dalam menghadapi pendidikan abad 21, kami pastikan tak akan mengobrak-abrik penerapan kurikulum nasional. Pembelajaran daring ini merupakan tambahan untuk siswa karena masuk ke kegiatan ekstrakulikuler,” katanya.

Indra menambahkan, program kerja sama sudah memiliki sistem manajemen pembelajaran. Materi mata pelajaran maupun jadwal juga sudah tertata dengan baik.

Para pelajar SMA bahkan bisa mengakses perkuliahan di Arizona State University. Kelas yang bisa diambil biasanya mata kuliah umum. Program ini mengakselerasi siswa yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Amerika Serikat, baik ke Arizona State University, maupun kampus lainnya di Negeri Paman Sam.

Soal biaya Rp500 ribu per bulan, menurut Indra, nominal itu jauh lebih murah ketimbang program internasional lainnya di Indonesia. “Melalui proses negosiasi yang panjang, program ini akhirnya bisa berjalan dengan biaya yang sangat terjangkau,” katanya.

Founder Urban Green Project Don Lamiso menambahkan, program ini bertujuan untuk menyetarakan akses pendidikan di Indonesia. Program itu sudah dilakukan sekolah di sejumlah negara seperti Tiongkok, Thailand dan negara-negara di Amerika bagian selatan.

“Proyek kami utamanya mengedepankan penyetaran dan akses. Semua anak punya akses. Kita membawa kurikulum terbaik di dunia ke dalam ruang kelas secara digital,” kata Don menandaskan. (Tri Wahyuni)