Pembukaan Keran Industri Hulu Gairahkan Dunia Usaha Perikanan Tangkap

0
(suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak nyata bagi industri perikanan tangkap nasional baik skala kecil, menengah, maupun besar, termasuk industri alat tangkap dan galangan kapal sebagai industri pendukungnya.

“Permasalahan kuncinya pada tidak adanya permintaan pasar, baik dalam negeri maupun ekspor akibat diberlakukannya lockdown di berbagai negara dan PSBB di berbagai wilayah di Indonesia, dan dampak berikutnya adalah jalur distribusi yang terhambat”, ungkap oleh Tri Wiji Nurani Sekretaris Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) yang juga Guru Besar pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan IPB University, dalam Temu FK2PT Serial 6 (25/8/2020).

Ia menyaranakan solusi dengan pembukaan keran-keran di industri hulu sektor perikanan untuk membangkitkan kembali sektor perikanan dan kelautan nasional. “Dengan dibukanya kembali industri hulu perikanan, saya memandang ini akan mampu untuk membangkitkan kembali industri perikanan dan kelautan nasional dari kelesuannya sebagai dampak dari pandemi Covid-19 dan juga berbagai permasalahan lainnya”, tambah Tri Wiji.

“Pasar-pasar baru produk perikanan dalam negeri pun perlu digarap, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta, dan target konsumsi 60 kg per kapita pada tahun 2024, maka akan dibutuhkan sekitar 16,2 juta ton ikan”, ujarnya kembali.

Selain itu, pemberian nilai tambah menjadi satu hal yang penting. “Pemberian nilai tambah tidak saja akan meningkatkan nilai ekonomi produk ikan, tetapi juga akan memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat”, ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) Dwi Ernaningsih menyatakan kegiatan perikanan tangkap merupakan sebuah bisnis yang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sumber daya ikan, unit alat tangkap, kapal perikanan, sarana prasarana, distribusi, pengolahan dan pemasaran. Hal ini akan sangat mendukung upaya kebangkitan sektor perikanan di tengah-tengah pandemi Covid-19.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi, bahwa laut dapat memberikan dampak berganda ekonomi yang sangat besar dari keseluruhan apa yang ada di dalamnya. “Dari pantai nya saja sudah dapat menjadi tujuan wisata yang berdampak ekonomi, apalagi kalau dapat memanfaatkan sumber daya ikannya. Perlu diciptakan pasar sebagai destinasi yang menarik, mendorong orang untuk mau mengkonsumsi ikan”, ungkapnya.

Dedi juga menambahkan, pembangunan perikanan janganlah hanya pada kalkulasi ekonomi melainkan harus juga memperhatikan kesejahteraan sosial ekonomi. Disini tata kelola yang baik sangat penting dilakukan.

Disisi lain, Direktur Pengolahan dan Bina Mutu KKP Trisna Ningsih menyatakan pada kondisi sekarang di era new normal, telah dilakukan beberapa inovasi perijinan. Proses ijin SKP awalnya 10 hari, menjadi 7 hari, sekarang hanya 3 hari. Tidak perlu verifikasi ke lapangan, hanya mengirimkan foto-foto dan dokumentasi elektrik dan digital.

Trisna menambahkan kebijakan dari KKP utamanya terkait dengan investasi, akses pasar, logistik, produk perikanan bermutu dan bernilai tambah. “Diperlukan sinergitas dari hulu hilir, bagaimana penangkapan, budidaya, sampai distribusi, mulai dari kapal angkut, jasa logistik, UPI skala menengah besar, UPI skala kecil, sampai produk ke tangan konsumen” ungkapnya.

Stimulus ekonomi diberikan dalam berbagai bentuk paket peralatan pengolahan. Kebijakan lainnya yaitu kerjasama pemasaran dengan toko online. Langkah konkrit untuk menyikapi kondisi industri pengolahan ikan saat pandemic Covid-19 yaitu menjamin mutu dan keamanan di UPI, menjaga produktivitas UPI dalam menyerap produksi nelayan dan pembudidaya, menjaga rantai bisnis ikan hulu-hilir tetap berjalan baik, dan mendorong peningkatan ekspor ikan hidup ke Asia Timur.

Kuncoro Catur Nugroho Direktur PT Kelola Mina Laut dalam kesempatan yang sama menyatakan dalam 2 tahun ini ekspor Indonesia untuk udang terus meningkat. Tuna trennya sedikit menurun dari 2019-2020. Indonesia menjadi pengekspor utama di US, dari crab. Untuk rajungan ini, menjadi pasar khusus dan menarik untuk restoran, namun restoran kini sudah menurun sehingga ada pola-pola yang harus diantisipasi. Pandemi ini dikaitkan dengan pemulihan antar negara yang berbeda, perilaku antar negara menyebabkan pemulihannya berbeda.

Strategi ke depan perusahaan, tambah Kuncoro adalah mempermudah konsumen. Berbelanja di pasar tradisional, pasar modern, ada kebiasaan baru dalam berbelanja. Kebiasaan untuk memborong belanjaan, belanja dengan cepat, untuk menghindari kontak dengan banyak orang. Banyak juga yang belanja online. Hidup sehat, sering makan di rumah, dapur menjadi bagiannya. Makanan instan, dan cepat saji pun dicoba, makanan cepat saji dibawa pulang dan seterusnya. Jasa makanan atau restoran di masa pandemi yaitu beralih ke toko online. Eksportir juga harus cepat berubah, harus mengikuti apa permintaan buyer.

Didik Sudiarso Direktur PT Kurnia Mitra Makmur mengungkapkan sejak pandemi Covid-19 mulai Maret 2020, praktis sektor hotel dan restoran mengalami penurunan permintaan bahkan closed, akibatnya adalah menurunnya serapan pasar. Sementara itu, biaya operasional perusahaan menjadi tinggi dengan adanya penerapan protokol Covid-19 di UPI, menjadikan daya kompetisi produk menurun. Ia meminta agar kebijakan pemerintah dapat meningkatkan konsumsi ikan di dalam negeri, dengan menjadikan ikan bagian dari produk bantuan pangan selain beras dan telur.

Dosen Pengolahan Universitas Padjadjaran Emma Rochima juga menyebut bahwa pengolahan produk ikan menjadi solusi untuk ketahanan pangan dan meningkatkan imunitas tubuh. Ia menambahkan di beberapa negara sudah mulai digaungkan pangan fungsional. Ikan merupakan potensial yang sangat besar dalam pangan alami. Ikan mengandung protein tinggi, karena protein ini berguna untuk pembentukan sel-sel di tubuh kita. Pangan fungsional penting, karena dapat mencegah kekurangan nutrisi, mencegah timbulnya penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas, dan juga dapat mencegah penuaan.

Temu FK2PT on line Serial 6 (25/8/2020) merupakan serial terakhir dari rangkaian serial Temu FK2PT. Kegiatan dengan tema Era Adaptasi Norma Baru untuk Pelaku Usaha Distribusi, Pengolahan, dan Pemasaran Ikan digelar untuk mengurai permasalahan, tantangan dan peluang bagi kebangkitan dunia usaha dan industri perikanan dan kelautan nasional di masa pandemi COVID-19. Dihadiri oleh Ketua FK2PT Dr Agus Suherman, SPi., MSi., para akademisi Bidang Perikanan Tangkap dari IPB University, UNDIP, UNRI, UHO, UNHAS, USNI, UNTIRTA, UNRAM, UNDANA, dan lainnya, serta perwakilan pemerintah, para pelaku usaha perikanan tangkap dari Aceh hingga Papua. (Andara Yuni)