Pemda Didorong Implementasikan Model Pelindungan Bahasa Daerah

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah daerah (Pemda) didorong untuk implementasi model pelindungan bahasa daerah. Hal itu selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar Episode 17: Revitalisasi Bahasa Daerah, yang diluncurkan Kemdikbudristek, pada awal Februari lalu.

Demikian dikemukakan Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Hafidz Muksin saat membuka pelatihan
‘Revitalisasi Bahasa Daerah Bagi Guru SD dan SMP, di Bali, Minggu (26/6).

Pelatihan semacam itu juga digelar di 12 provinsi lainnya diluar Bali, yaitu Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Papua.

Dijelaskan, pelatihan revitalisasi bahasa dilakukan agar para kaum muda dapat menjadi penutur aktif berbahasa daerah. Mereka mau dan semangat dalam menggunakan bahasa daerah melalui media yang disukai.

“Karena itu, kami dorong pemda mengimplementasikan model pelindungan bahasa daerah yang sesuai dengan daerahnya masing-masing,” katanya.

UNESCO pada 2018 melaporkan, setiap 2 minggu ada satu bahasa daerah yang punah. Kepunahan bahasa itu terjadi karena para penuturnya tak lagi menggunakan atau mewariskan bahasa tersebut kepada generasi berikutnya.

Hal senada dikemukakan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Perencanaan, Fahturahman. Katanya, revitalisasi bahasa daerah perlu dilakukan, mengingat ada 718 bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya terancam punah dan kritis.

“Revitalisasi bahasa daerah menjadi perhatian Kemdikbudristek. Jumlah bahasa daerah yang menjadi objek revitalisasi di 12 provinsi. Kita alokasikan sumberdaya untuk mendukung upaya revitalisasi itu,” ucap Fahturahman.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah, Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra, menyampaikan apresiasi atas inisiasi Kemdikbudristek dalam revitalisasi bahasa daerah.

“Pelatihan ini sejalan dengan pemerintrah Bali, menuju Bali Era Baru yang menitikberatkan tata kehidupan Bali yakni Alam Bali, Krama Bali, dan Budaya Bali,” katanya. (Tri Wahyuni)