Pemerintah Dalami Masalah Kurangnya Pasokan Telur Ayam

0
Anggota Komisi IV DPR Hermanto. (Ist)

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah perlu benar-benar mendalami berbagai hal yang terkait dengan permasalahan berkurangnya pasokan telur ayam ke berbagai daerah yang juga mengakibatkan melonjaknya harga komoditas tersebut.

Anggota Komisi IV DPR Hermanto dalam rilis, Kamis (19/7), mengingatkan bahwa pengadaan telur dapat dibagi menjadi dua klaster pemasok.

“Yaitu supplier besar dalam hal ini korporasi dan ada juga petani telur kelas menengah ke bawah,” papar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Ia berpendapat bahwa untuk pemasok telur besar maka seluruh komponen biaya daripada ayam itu atau telur itu dikuasai oleh para korporasi.

Dengan melihat hal seperti itu, ujar dia, maka dapat dilihat siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dalam hal ini.

Hermanto juga menegaskan bahwa sebenarnya pihak yang paling dirugikan terkait kenaikan ini adalah konsumen Indonesia.

Sementara itu, Center for Indonesian Policy Studies menilai bahwa berkurangnya pasokan jagung untuk pakan ayam memicu tingginya harga telur di wilayah DKI Jakarta dan berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, lebih dari 50 persen produksi jagung memang diperuntukkan untuk konsumsi hewan, misalnya saja ayam.

Menurut Imelda, mahalnya harga pakan ayam nabati, yang sebagian besar adalah jagung, dipengaruhi oleh ketersediaannya di pasar di mana jumlah produksi nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsinya.

Sedangkan di saat yang bersamaan, lanjutnya, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional adalah 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.

Di saat yang bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berjumlah 21,6 juta ton, 22,5 juta ton dan 23,3 juta ton.

Ada sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.

“Jumlah produksi jagung nasional terus meningkat. Tapi kenaikan ini juga diikuti adanya lonjakan jumlah konsumsi nasional,” katanya.

Imelda mengingatkan bahwa tanpa adanya ketersediaan yang memadai, harga jagung akan tinggi, belum lagi depresiasi rupiah dipastikan memengaruhi impor. (MChandra)