Pemerintah Sesuaikan Nilai Ambang Batas PPPK Fungsional Guru

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menetapkan penyesuaian nilai ambang batas bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk Jabatan Fungsional Guru. Nilai ambang batas dibagi menjadi 3 kategori.

Pelaksana tugas (Plt) Asisten Deputi Perencanaan dan Pengadaan SDM Aparatur, Kementerian PANRB Katmoko Ari Sambodo menjelaskan, penetapan itu tertuang dalam Keputusan Menteri PANRB No 1169/2021 tentang Pengolahan Hasil Seleksi Kompetensi I dan Penyesuaian Nilai Ambang Batas Seleksi Kompetensi PPPK untuk Jabatan Fungsional Guru pada Instansi Daerah Tahun Anggaran 2021.

“Penyesuaian nilai ambang batas dalam 3 kategori ini didasarkan pada aspirasi masyarakat dan pengamatan kondisi riil di lapangan. Terutama pada peserta berusia lanjut yang kesulitan dalam mengerjakan soal kompetensi teknis,” kata Ari dalam keterangan pers, Kamis (7/10/21).

Selain itu, lanjut Ari Sambodo, penetapan tersebut juga merujuk pada hasil evaluasi serta pemetaan hasil Seleksi Kompetensi I oleh Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) Pengadaan PPPK Guru yang menunjukkan adanya potensi disparitas pemenuhan kebutuhan guru antar wilayah.

“Namun, penyesuaian nilai ambang batas dilakukan dengan tetap memperhatikan kualitas dari PPPK Guru yang akan direkrut,” ucap Ari Sambodo menegaskan.

Dalam Keputusan Menteri PANRB No 1169/2021 yang ditandatangani Menteri PANRB Tjahjo Kumolo pada 6 Oktober 2021 disebutkan, nilai ambang batas kategori 1 adalah nilai sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri PANRB No 1127/2021 tentang Nilai Ambang Batas Seleksi Kompetensi Pengadaan PPPK untuk Jabatan Fungsional Guru pada Instansi Daerah Tahun Anggaran 2021.

Ditambahkan, nilai ambang batas kategori 2 diberlakukan pada peserta usia paling rendah 50 tahun saat pendaftaran. Kebijakan itu merupakan bentuk penghargaan atas pengabdian peserta berusia lanjut dalam memberi jasa pendidikan anak bangsa.

Adapun nilai ambang batas diberlakukan hanya untuk nilai kumulatif seleksi kompetensi manajerial dan sosial kultural sebesar 110 serta wawancara sebesar 20.

Untuk kategori 3, nilai ambang batas disesuaikan untuk seleksi kompetensi teknis. Misalkan, guru kelas SD ditetapkan nilai ambang batas Seleksi Kompetensi Teknis (SKT) sebesar 270 setelah disesuaikan dari semula sebesar 320.

Untuk nilai ambang batas kumulatif seleksi kompetensi manajerial dan sosial kultural serta wawancara tidak dilakukan penyesuaian.

Selanjutnya, kelulusan akhir pada Seleksi Kompetensi I, Seleksi Kompetensi II dan Seleksi Kompetensi III menggunakan ketiga kategori nilai ambang batas tersebut secara berurutan, dengan ketentuan sebagai berikut. Pertama, terhadap seluruh peserta, diberlakukan nilai ambang batas kategori 1 dan berperingkat terbaik.

Kedua, jika setelah nilai ambang batas kategori 1 diberlakukan masih ada alokasi kebutuhan yang belum terpenuhi, maka peserta berusia paling rendah 50 tahun pada saat pendaftaran terkena nilai ambang batas kategori 2 dan berperingkat terbaik.

Ditambahkan, jika setelah nilai ambang batas kategori 1 dan 2 diberlakukan masih ada alokasi yang belum terpenuhi, maka seluruh peserta diberlakukan nilai ambang batas kategori 3 dan berperingkat terbaik.

Keputusan Menteri PANRB juga menegaskan, pengolahan nilai Seleksi Kompetensi I. Peserta seleksi kompetensi I dibagi dalam 2 kelompok. Pertama, berisi peserta yang melamar di sekolah tempatnya mengajar dan memiliki sertifikat pendidik atau kualifikasi pendidikan sesuai dengan jabatan yang dilamar.

Sedangkan kelompok kedua adalah peserta yang melamar di bukan tempatnya mengajar, serta memiliki sertifikat pendidik atau kualifikasi pendidikan sesuai jabatan yang dilamar.

Peserta berkompetisi pada kelompoknya masing-masing. Setelah dilakukan pengolahan hasil seleksi, jika terdapat alokasi kebutuhan dari kelompok pertama yang kosong karena tidak ada peserta yang memenuhi nilai ambang batas kategori 1, 2, maupun 3, maka kekosongan itu tidak dapat dipenuhi dari kelompok 2. Hal itu juga berlaku sebaliknya. (Tri Wahyuni)