Pemerintah Siapkan Rp5 Triliun untuk Dana Abadi Kebudayaan

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni.

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan menggelontorkan dana Rp5 triliun sebagai “modal” untuk Dana Abadi Kebudayaan (DAK). Perolehan bunga atas simpanan DAK akan digunakan untuk berbagai kegiatan yang diharapkan dapat menggairahkan kembali kegiatan seni dan budaya di masyarakat.

“Semoga DAK bisa memberi angin segar. Karena belakangan ini, ruang budaya kita terasa makin sempit. Padahal semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika,” kata Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud, Hilmar Farid disela kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 di Sawangan, Depok, Rabu (13/2/2019).

Hilmar menjelaskan, realisasi DAK baru bisa diwujudkan paling lambat akhir 2020. Karena tahun ini, pemerintah baru akam membahas aturan tentang DAK, termasuk badan pengelolanya.

“Nantinya DAK dijalankan seperti halnya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Lembaga atau perorangan dapat mengajukan proposal kegiatan ke DAK,” ujarnya.

Hilmar memperkirakan ada dana atas “bunga” DAK sekitar Rp300 miliar, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan kebudayaan selama 1 tahun ke depan. Kegiatan dilakukan mulai dari pertunjukan seni dan budaya, pameran, penulisan buku, permainan rakyat hingga diskusi budaya.

“Kegiatan budaya di akar rumput yang mulai hilang akhir-akhir ini, semoga bisa subur lagi,” katanya.

Terkait kegiatan yang akan dilakukan Ditjen Kebudayaan dalam waktu dekat, Hilmar menyebutkan, Pekan Kebudayaan Nasional (PKN). Diharapkan PKN membuka ruang interaksi dalam kerangka pelestarian budaya Indonesia.

“PKN merupakan salah satu agenda strategi pemajuan kebudayaan, yang memberi ruang bagi keberagaman ekspresi dan interaksi budaya guna memperkuat kebudayaan yang inklusif,” kata Hilmar seraya menambahkan PKN 2019 akan digelar para Oktober mendatang.

Hilmar menambahkan, PKN bukan milik Ditjen Kebudayaan Kemdikbud semata, melainkan kegiatan atas nama bangsa Indonesia. “Ini kegiatan Indonesia, sama seperti Asian Games. PKN diharapkan memberi dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Setidaknya ada 5 kegiatan utama dalam PKN, disebutkan, kompetisi daerah, kompetisi nasional, konferensi pemajuan kebudayaan, ekshibisi kebudayaan, dan pergelaran karya budaya bangsa. Kompetisi daerah dilaksanakan oleh setiap provinsi di Indonesia.

Kompetisi yang bisa dilakukan, antara lain permainan rakyat yang sederhana, tidak memerlukan peralatan atau fasilitas rumit seperti gobak sodor, galasin atau permainan tali. Meski tergolong kompetisi, namun elemen permainannya yang akan ditonjolkan.

“Permainan tradisional ini akan menarik perhatian publik. Apalagi, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, permainan tradisional masuk dalam objek pemajuan kebudayaan,” ucapnya.

Soal Konferensi Pemajuan Kebudayaan, Hilmar menjelaskan, hal itu akan menjadi ruang pencerahan publik untuk perencanaan pembangunan berbasis kebudayaan. Sementata Pergelaran Karya Budaya Bangsa, antara lain ditampilkan dalam bentuk pergelaran seni seperti defile tarian tradisional, koreografi bela diri dan rampak perkusi nusantara. (Tri Wahyuni)