Pemilik Faktor Risiko Penyakit Ginjal Disarankan Cek Kesehatan Setiap Bulan

0

JAKARTA (Suara Karya): Orang dengan faktor risiko penyakit ginjal disarankan untuk cek kesehatan setiap bulannya. Hal itu penting dilakukan guna mencegah terjadinya penyakit ginjal kronik maupun gagal ginjal.

“Tentukan 1 hari dalam satu bulan untuk cek kesehatan. Minimal 3 hal yaitu gula darah, tekanan darah dan berat badan. Usahakan angkanya tidak naik,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia di Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Hadir dalam kesempatan itu anggota Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), Pringgodigdo Nugroho.

Cut Putri menyebut faktor risiko penyakit ginjal meliputi riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, kelahiran prematur, gula darah tinggi atau diabetes tipe 2, hipertensi, obesitas (kegemukan), konsumsi obat bersifat toksik, NAPZA (Narkotika dan Zat Adiktif lainnya) merokok, pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik.

“Jika Anda masuk dalam faktor risiko itu, kami menyarankan untuk cek kesehatan setiap bulan sebagai bagian dari deteksi dini,” ujarnya.

Deteksi dini penyakit ginjal, lanjut Cut Putri, perlu dilakukan terutama pada penderita hipertensi dan diabetes. Karena tekanan darah atau gula darah yang tidak terkontrol merupakan faktor terbesar terjadinya penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal di Indonesia.

“Bagi penderita hipertensi atau gula darah tinghi diingatkan untuk tidak lupa minum obat. Bukan obat yang menyebabkan gangguan ginjal, tetapi tekanan darah atau gula darah yang tidak terkontrol. Ginjal akan rusak karena bekerja terlalu keras” tuturnya.

Selain itu, lanjut Cut Putri, pengecekan berat badan dan lingkar pinggang juga perlu dilakukan untuk terhindar dari obesitas. Semakin tinggi berat badan seseorang, maka risiko atas penyakit ginjal akan semakin tinggi.

“Deteksi dini bisa dilakukan secara mandiri di rumah dengan membeli alat pengukur tekanan darah, kadar gula darah, meteran untuk mengukur lingkar pinggang dan timbangan untuk mengukur berat badan. Jika tidak punya, bisa datang ke Pospindu Penyakit Tidak Menular,” katanya.

Jika hasil pengukuran terjadi kenaikan, lanjut Cut Putri, disarankan untuk menemui dokter guna menjalani pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan yang tepat. “Bagi mereka yang sehat, deteksi dini bisa dilakukan setiap tahun. Pastikan hasilnya tidak bertambah dibanding tahun lalu,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan anggota Pernefri yang juga staf pengajar di Divisi Ginjal Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Pringgodigdo Nugroho. Penyakit ginjal patut mendapat perhatian karena menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. “Data global menunjukkan, 1 dari 3 orang memiliki risiko terkena penyakit ginjal kronis,” ujarnya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 3,8 persen. Sedangkan data Indonesian Renal Registry memperkirakan angka kejadian gagal ginjal mencapai 499 per 1 juta penduduk.

“Diagnosis secara dini, tindakan preventif dan pencegahan terhadap progresivitas penyakit ginjal perlu dilakukan,” kata Pringgodigdo menandaskan. (Tri Wahyuni)