Pemkot Bandung Bahas Penanganan Banjir dengan BBWS dan Kementerian PUPR

0
Wali Kota Bandung Oded M Danial meninjau lokasi pemukiman warga di kawasan Jalan Pagarsih yang terdampak banjir. (Istimewa)

BANDUNG (Suara Karya): Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat segera menemui pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Kementerian PUPR guna mengatasi masalah banjir yang terjadi di kawasan Pagarsih.

“Harus diperhatikan urusan sungai itu masalahnya tidak hanya parsial. Tidak hanya kota kabupaten terdampak, harus juga dengan pemerintah provinsi maupun pusat,” ujar Wali Kota Bandung, Oded M. Danial di Bandung, Rabu (28/11/2018).

Banjir di Pagarsih berasal dari luapan Sungai Citepus. Pemkot pun telah membangun basement air untuk menampung sementara limpahan air dari wilayah hulu seperti di kawasan Pasteur.

Namun basement air belum bisa menampung air seluruhnya apabila terjadi hujan deras. Akibatnya, wilayah yang berada di bawah Pagarsih yakni Gang Tresna Asih, Astana Anyar terdampak banjir hingga ketinggian satu meter.

“Masyarakat menyampaikan ketika basement air dibangun yang dulunya kalau ada banjir air terbagi. Sekarang masuk basement langsung tumpah ke Sungai Citepus dan berdampak ke rumah mereka,” kata dia. (Puruhita AH)

Meski begitu, Oded berjanji akan mencarikan solusi terbaik agar permasalahan banjir di Pagarsih dapat segera diatasi.

“Kita kan punya danau retensi Sirnaraga. Kalau sudah efektif semoga jadi bagian dari solusi,” kata dia.

Sementara itu, salah seorang warga terdampak banjir di Gang Tresna Asih, Astana Anyar, Dudi (37) mengatakan, banjir di wilayahnya diduga karena adanya basement air Pagarsih.

Ia mengaku, daerahnya memang merupakan wilayah langganan banjir. Namun sejak adanya basement air ketinggiannya bisa mencapai satu meter.

“Dulu pelan-pelan naiknya, sekarang pas udah ada jalan tol di Pagarsih, airnya langsung meluap cepat. Dulu mah kan dibagi-bagi limpahan banjirnya sekarang ke sungai semua,” kata dia.

Ia berharap Pemkot Bandung segera memikirkan solusi terbaik agar banjir tak merendam wilayahnya. Pasalnya yang paling dikhawatirkan kondisi psikologis anak-anak.

“Yang jadi korban mah anak-anak. Kasian mereka kalau hujan gede udah ketakutan pasti banjir hingga rumahnya terendam,” kata dia. (Puruhita AH)