Penanganan Gangguan Depresi, Mari Belajar dari Pengalaman Denmark

0

JAKARTA (Suara Karya): Penanganan kesehatan jiwa, termasuk depresi di Denmark ditangani sebagaimana penyakit lainnya. Tidak ada aib atau stigma, akibat dignosa gangguan kesehatan mental dan perawatannya.

“Dan yang terpenting, tidak ada diskriminasi terhadap penderita di tempat kerja atau lingkungan keluarga dan masyarakat,” kata Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor Leste, Papua Nugini dan ASEAN, Rasmus Abildgaard Kristensen dalam acara ‘Lundbeck Regional Symposium’ di Jakarta, Sabtu (22/6/2019).

Hadir dalam acara itu, Direktur Pelaksana Lundbeck untuk wilayah Asia Tenggara, Morten Bryde Hansen, Profesor klinis neuropsikiatri dari Fakultas Kedokteran Universitas South Carolina, Amerika dan psikiatris dari Universitas Alberta, Kanada, Pratap Chokka.

Pembicara Indonesia yaitu Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Eka Viora dan Ketua Divisi Mood Disorder Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Margarita Maramis.

Simposium dihadiri sekitar 450 dokter dari Asia Selatan dan Asia Timur untuk membahas manajemen kesehatan jiwa dan konsekuensinya jika penderita tak menerima pengobatan yang tepat, serta perkembangan dan inovasi pengobatan untuk gangguan depresi.

Hal senada dikemukakan dikemukakan ahli jiwa dari Universitas Alberta, Kanada Pratap Chokka. Ia mengutip hasil kajian badan kesehatan dunia tahun 2017 yang menyebut gangguan depresi telah menduduki peringkat keempat penyakit di dunia. Sekitar 300 juta dari total populasi dunia menderita depresi.

“Terlebih lagi ada banyak stigma tentang depresi di masyarakat, sehingga menghambat orang dengan depresi mendapat dukungan yang dibutuhkan untuk bisa menjalani kehidupan kembali secara normal,” tuturnya.

Ditambahkan, gangguan depresi juga bisa mempengaruhi fungsi kognitif selain suasana hati dan gejala fisik lainnya. Gejala kognitif pada depresi secara signifikan berkontribusi terhadap penurunan produktivitas kerja atau gangguan fungsi dalam kegiatan sehari-hari. Misalkan, pelupa, lambat dalam menanggapi percakapan dan kesulitan dalam mempertahankan fokus.

Sementara itu Vladimir Maletic mengemukakan, selama dekade terakhir definisi kesuksesan dalam penanganan depresi telah berubah menjadi pemulihan fungsi sepenuhnya. Pasien tidak hanya merasa jauh lebih baik, tetapi juga mampu memulihkan fungsi mereka di rumah, tempat kerja dan terintegrasi kembali di masyarakat.

“Ada beberapa pihak yang salah paham bahwa antidepresan tidak membawa manfaat bagi pasien dan memiliki banyak efek samping. Padahal, antidepresan telah berevolusi selama bertahun-tahun, lewat obat yang disebut voxtioxetine,” katanya.

Antidepresan buatan Lundbeck tersebut, lanjut Maletic, mampu memperbaiki gejala suasana hati dan gejala kognitif lainnya. Sehingga hal itu membantu pasien mencapai pemulihan fungsional. Dan yang terpenting, Vortioxetine dilaporkan memiliki efek samping yang lebih minimal.

Lundbeck adalah perusahaan farmasi multinasional asal Denmark yang konsisten dalam meningkatkan kualitas hidup orang yang menderita penyakit otak. Lundbeck terlibat dalam penelitian dan pengembangan obat yang khusus untuk penyakit kesehatan jiwa atau psikiatri dan neurologi atau otak. (Tri Wahyuni)