Pendidikan Vokasi Harus Ajarkan Seimbang ‘Hard Skill’ dan ‘Soft Skill’

0
Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto mengingatkan penyelarasan kurikulum menjadi poin paling penting dalam pendidikan vokasi.

“Kurikulum harus menjamin lulusan vokasi ketika lulus memiliki budaya kerja yang baik dan profesional,” kata Wikan disela acara webinar bertajuk ‘Praktik Baik Vokasi dan Industri’ dan peluncuran 7 Program Kemitraan Pendidikan Vokasi, Senin (10/8/20).

Acara yang diinisiasi Direktorat Kemitraan dan Penyelerasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI), Ditjen Diksi Kemdikbud itu juga dihadiri Direktur Pengembangan PT INKA, Agung Sedaju dan Direktur Politeknik Negeri Madiun, Muhammad Fajar Subkhan.

Webinar diikuti 534 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, hingga pelaku dunia usaha dan dunia industri.

Karena itu, lanjut Wikan, kurikulum jangan hanya mengedepankan hard skill, tetapi juga harus ada soft skill seperti sikap dan budaya kerja saat berada dalam perusahaan. Karena soft skill yang terlihat dalam sikap (attitude) sehari-hari sama pentingnya dengan hard skill atau keahlian.

“Selama ini, pengajaran di pendidikan vokasi selalu ditekankan pada keahlian atau hard skill, lupa bahwa sikap, gaya berkomunikasi, kerja tim atau budaya kerja atau soft skill juga harus diajarkan ke peserta didik. Karena soft skill juga menjadi penentu dalam memenangkan persaingan kerja,” ujarnya.

Penandatanganan kerja sama dilakukan dengan Otto von Guericke Universitaet – Magdeburg, Jerman. Kerja sama itu dalam peningkatan kualifikasi lulusan vokasi di jenjang master, pertukaran pengajar melalui aktivitas kolaboratif, termasuk di dalamnya riset bersama, serta kesempatan konferensi, simposium, workshop dan seminar.

“Kerja sama dengan asing, industri atau dunia usaha bukan hal baru bagi perguruan tinggi vokasi. Karena selama ini banyak pola kemitraan yang telah terjalin secara harmonis,” ucap Wikan.

Ditambahkan, kerja sama tersebut merupakan peluang baik untum pengembangan SDM Indonesia dengan salah satu Universitas di Jerman. Lewat kerja sama itu, Indonesia bisa tukar ilmu pengetahuan, inovasi sekaligus membuka pengalaman dengan Industri di Jerman.

Sedangkan praktik baik kemitraan PTV dan Iduka telah dijalankan Politeknik Negeri Madiun dengan PT INKA sejak beberapa waktu lalu.

Direktur Pengembangan PT INKA, Agung Sedaju menjelaskan, link and match pendidikan vokasi sangat penting bagi industri. Pasalnya, masih banyak lulusan vokasi yang hanya memahami teori, namun belum memahami implementasi di dunia kerja.

“Pendidikan vokasi di Indonesia belum memenuhi standar dari apa yang dibutuhkan dunia industri, sehingga lulusannya perlu kami ajari lagi. Sedangkan kami butuh lulusan yang sudah siap bekerja, baik paham secara teori maupun praktik langsung,” ucap Agung.

Sejumlah tantangan yang memicu terjadinya kesenjangan antara pendidikan vokasi dengan industri adalah perubahan yang pesat di industri pada empat lini, meliputi kemudahan, kecepatan, kemurahan biaya, serta fleksibilitas. Artinya pendidikan vokasi harus melahirkan SDM yang mumpuni untuk dapar mengejar perubahan-perubahan tersebut.

Sementara itu Direktur Politeknik Negeri Madiun, Muhammad Fajar Subkhan mengatakan, kerja sama dengan PT INKA mengusung konsep kemitraan yang berkelanjutan. Bahkan, ada kelas khusus yang dibangun bersama PT INKA. Kendati demikian, Fajar mengakui tidak mungkin semua lulusan Politeknik Negeri Madiun dapat terserap di PT INKA.

“Kurikulum yang dikembangkan tentu tidak semuanya spesifik pada perkeretaapian. Kami menyiapkan kompetensi mahasiswa agar dapat bekerja di berbagai industri. Tak hanya pada hard skill, tetapi juga membekali kemampuan soft skill,” kata Fajar menegaskan. (Tri Wahyuni)