Suara Karya

Peneliti UPER Manfaatkan Limbah Ampas Kelapa Jadi Biodiesel

JAKARTA (Suara Karya): Tim Peneliti dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina yang beranggotakan, I Wayan Koko Suryawan dan Ariyanti Sarwono mengembangkan penelitian yang mengolah limbah ampas kelapa menjadi biodiesel.

“Biodiesel dari limbah ampas kelapa ini tak saja memperbanyak variasi biomassa untuk campuran biodiesel, tetapi juga membuat lingkungan menjadi lebih asri,” kata I Wayan Koko Suryawan, di kampus UPER Jakarta, Jumat (14/4/23).

Koko menjelaskan, penelitian fokus pada penggunaan ampas kelapa hasil pengolahan produk santan. Sebagian kecil ampas itu diolah menjadi pakan ternak, sisanya dibuang.

“Jika dibiarkan, limbah ampas kelapa itu akan mencemari sumber air tanah, selain menimbulkan bau busuk,” ujarnya.

Merujuk pada data Food and Agriculture Organization pada 2021, produksi kelapa di Indonesia mencapai 17,15 juta ton. Hal itu membuat Indonesia berada di urutan pertama negara penghasil kelapa terbanyak di Asia Tenggara.

“Produksi kelapa yang tinggi, tentunya berdampak pada jumlah limbah yang semakin banyak. Padahal, ampas kelapa itu bisa diolah menjadi biodiesel karena kandungan minyak kelapa dalam ampas masih ada sekitar 15-24 persen dari beratnya,” kata Koko.

Hasil survei yang dilakukan Koko dan tim ke beberapa penjual kelapa parut tradisional, rata-rata satu hari ada 124 butir kelapa diparut atau berjumlah 49,6 kg. Rata-rata ampas yang terbuang dalam satu hari sebanyak 20 kg.

“Dari 20 kg ampas kelapa akan diperoleh 3,04 liter bahan bakar nabati. Jika diolah menjadi biodiesel, maka bahan bakar itu bisa digunakan untuk mesin pemarut kelapa menggantikan bensin,’ tuturnya.

Opsi biodiesel berbasis ampas kelapa itu menjadi pilihan yang baik bagi para penjual kelapa parut, sehingga mereka tidak perlu membeli bensin terus-menerus. Hal itu secara simultan juga bisa mengurangi emisi karbon yang dikeluarkan mesin pemarut kelapa.

Penelitian melibatkan 11 mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan yang berpartisipasi secara aktif dalam riset. Hal itu membuktikan komitmen UPER dalam mempersiapkan mahasiswa tak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam penelitian.

Penelitian tentang biodiesel menjadi penting karena Pemerintah terus mendorong penggunaan energi baru terbarukan, salah satunya melalui program Mandatori Biodiesel yang berjalan sejak 2014 lalu.

Per 1 Februari 2023 pemanfaatan biodiesel telah mencapai tahap B35 atau pencampuran 35 persen biomassa dari minyak sawit dan 65 persen minyak solar.

Melansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, implementasi B35 diharapkan dapat menyalurkan 13,15 juta KL biodiesel bagi industri dalam negeri.

Selain itu, penggunaan B35 juga diproyeksikan dapat mengurangi impor minyak serta emisi gas rumah kaca sebesar 34,9 juta ton CO2. (Tri Wahyuni)

Related posts