Pengajaran Berbasis Bahasa Daerah akan Masuk Kurikulum SD

0

A

“Pengajaran berbasis bahasa daerah ini kami uji coba di beberapa sekolah dasar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasilnya sangat positif. Anak dapat memahami pelajaran lebih baik,” kata Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kemdikbudristek
Endang Aminudin Aziz usai peresmian Gedung Baru di Kompleks Badan Bahasa, Jakarta, Selasa (22/2/22).

Peresmian gedung dilakukan Sekretaris Jenderal Kemdikbudristek, Suharti.

Aminudin menjelaskan, uji coba pengajaran berbasis bahasa daerah itu merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang kini tengah digalakkan Kemdikbudristek.

Revitalisasi bahasa daerah bahkan menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar (MB) Episode 17, yang hari ini diluncurkan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim secara daring.

“Upaya revitalisasi bahasa daerah dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa daerah akibat kehilangan penuturnya. Untuk itu, harus ada upaya agar bahasa daerah bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” tuturnya.

Salah satu strategi revitalisasi bahasa daerah yang dikembangkan Kemdikbudristek adalah mendorong satuan pendidikan menggunakan bahasa daerah pada pengajaran kelas awal jenjang SD. Pada kelas yang lebih tinggi di SD dan sekolah menengah dimasukkan dalam muatan lokal.

“Karena itu, kami juga butuh dukungan dari pemerintah daerah masing-masing. Terutama pada provinsi, kabupaten, serta kota yang memiliki bahasa daerah dominan seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali,” katanya.

Untuk daerah yang tidak memiliki bahasa daerah dominan, lanjut Aminudin, muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jadi, pilihannya benar-benar ada di masing-masing sekolah.

“Namun, wajib tidaknya bahasa daerah menjadi muatan lokal di sekolah, akan tergantung kebijakan masing-masing pemerintah daerah,” tuturnya.

Sebelumnya Mendikbudristek Nadiem Makarim menyatakankan, program Revitalisasi Bahasa Daerah akan menggugah sekolah untuk bergerak mengembangkan pembelajaran bahasa daerah yang membangkitkan kreativitas peserta didik.

Guna melindungi penutur asli bahasa daerah, Nadiem menyebut, strategi terbaik adalah dengan memberi peluang seluas-luasnya kepada semua penutur asli bahasa daerah untuk menggunakan bahasanya.

“Itulah mengapa kami mengembangkan tiga model revitalisasi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pertama, bagi bahasa daerah yang daya hidup bahasanya masih aman, kami melakukan pewarisan lewat pembelajaran di sekolah,” ujar Nadiem.

Bagi bahasa daerah yang daya hidupnya tergolong rentan, walau jumlah penuturnya relatif banyak, menggunakan model kedua, di mana fokus bukan hanya sekolah tapi juga komunitas-komunitas.

Model ketiga, lanjut Menteri Nadiem, di mana daya hidup bahasa daerah kategori ini mengalami kemunduran, terancam punah, dan kritis, Kemendikbudristek akan berfokus pada komunitas, masyarakat, dan melibatkan komunitas tutur, keluarga-keluarga, forum-forum, dan tempat-tempat ibadah yang dapat dimasukkan pembelajaran bahasa daerah.

“Mengapa bahasa daerah yang dianggap aman tapi masuk revitalisasi? Karena kita tidak ada jaminan bahwa bahasa akan aman selama-lamanya. Bahkan, jumlah penuturnya teria berkurang. Karena itulah pada 2022, ditargetkan 38 bahasa sebagai obyek revitalisasi,” ucap Nadiem.

Soal penyelarasan bahasa Ibu dan bahasa Indonesia, diakui Nadiem, keduanya tidak berlawanan. Justru keduanya saling melengkapi dengan fungsi masing-masing. Bahasa daerah merupakan ekspresi identitas seseorang, sementara Bahasa Idonesia adalah pengikat rasa nasionalisme.

“Tantangannya adalah jika keduanya harus dipandang dan diperlakukan sama. Faktanya, bahasa daerah dan bahasa Indonesia berbeda,” ucap Nadiem menegaskan.

Ditambahkan, kita bisa menjadi orang Indonesia tanpa menghilangkan ciri kedaerahan kita masing-masing, termasuk dalam berbahasa. Bangsa Indonesia lahir dari keberagaman bahasa dan budaya, dan ini memperkaya identitas bangsa kita.

Bahasa daerah mesti diberi ruang di sekolah-sekolah. Para penutur lokal bisa membantu guru untuk mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak di sekolah.

Menutup paparannya, Mendikbudristek mengajak semua pihak berperan aktif dalam kegiatan pelestarian Bahasa ibu. “Mari kita sama-sama melestarikan bahasa daerah agar tetap adaptif bagi generasi berikutnya,” katanya. (Tri Wahyuni)