Pengamat IPB University: Green Industry Cluster Berperan Penting Dorong Dekarbonisasi

0
Pengamat ekonomi lingkungan IPB University Aceng Hidayat. (Ist) 

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat ekonomi lingkungan IPB University Aceng Hidayat menilai positif upaya Pertamina dalam pengembangan kawasan industri hijau atau _green industry cluster_. Menurut Aceng, kawasan industri hijau memiliki peran penting dalam mendorong dekarbonisasi.

“Itu bagus, karena kesadaran dari pihak industri untuk mengurangi _high emison_ (tinggi karbon) dengan cara perbaikan proses sehingga menghasilkan rendah emisi (_low emision_) karbon. Kita sambut baik hal tersebut,” tegas Aceng kepada wartawan hari ini.

Aceng menjelaskan, banyak faktor yang mempengaruhi emisi karbon pada kawasan industri. Salah satu faktor adalah input. “Jika inputnya menggunakan bahan boros energi maka akan menghasilkan karbon yang tinggi. Begitu pula sebaliknya,” kata Aceng.

Faktor lain adalah proses. Jika prosesnya menggunakan teknologi ramah lingkungan, maka otomatis akan menghasilkan ¬¬_¬output_ yang juga ramah lingkungan dan rendah karbon.

Aceng mencontohkan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Menurut Aceng, pemakaian PLTS pada kawasan industri merupakan salah satu langkah untuk mengurangi karbon. “Karena _input_-nya yaitu tenaga surya, kemudian diproses dan simpan dalam suatu baterai lalu digunakan. Selain itu, prosesnya juga ramah lingkungan. Jadi penggunaan PLTS termasuk salah satu langkah pengurangan emisi karbon,” jelas Aceng.

Menurut Aceng, penggunaan PLTS berbeda dengan batubara, dimana _input_-nya memang mengandung karbon. Dalam hal ini, harus melalui proses penghilangan karbon sebanyak mungkin. “Jadi _input_-nya kotor, lalu melalui proses pembersihan, baru bisa menghasilkan energi bersih. Ini berbeda dengan matahari, yang inputnya sendiri sudah bersih lalu diproses dan bisa menghasilkan energi terbarukan (EBT),” terang Aceng.

Pertamina sendiri, saat ini memang berperan dalam pengembangan kawasan industri hijau atau _green industry cluster. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen Pertamina terhadap Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) dalam mencapai target nol emisi karbon pada 2060.

Salah satunya, ketika Pertamina melalui Pertamina Power Indonesia bekerja sama dengan PT Jababeka Infrastruktur untuk pengembangan kawasan industri hijau Jababeka. Tahap awal yang dilakukan adalah melalui pemasangan panel untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.

Kawasan Industri Jababeka adalah kompleks industri untuk manufaktur dan operasi lain. Di dalamnya terdapat lebih dari 2.000 perusahaan dari 30 negara. Klaster industri baru ini membawa pendekatan multi-pemangku kepentingan yang terkoordinasi untuk mencapai dekarbonisasi industri. Beberapa perusahaan yang berkolaborasi menciptakan klaster net zero pertama di Asia Tenggara tersebut, antara lain Hitachi, Unilever, dan L’Oréal. (Pramuji)