Pengamat: Membangun SDM Unggul Harus Mulai dari Pendidikan Dasar

0

JAKARTA (Suara Karya): Membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, harus mulai dari pendidikan dasar, yakni Taman Kanak-Kanak (TK). Jangan bebani anak dengan kewajiban baca tulis hitung (calistung).

“Kondisi TK di Indonesia saat ini sudah seperti di sekolah dasar. Anak diajarkan membaca dan menulis, serta diberi pekerjaan rumah (PR). Tak ada lagi ruang bagi anak untuk berimajinasi,” kata pengamat pendidikan, Indra Charismiadji di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Padahal, lanjut Indra, anak TK seharusnya diajarkan hal-hal yang dapat merangsang imajinasinya untuk berkembang mulai dari bernyanyi, menari, bercerita hingga beragam permainan yang melatih sensor motorik anak berkembang sempurna.

“Seperti di Jepang, anak TK hanya diajarkan tentang budi pekerti dan beragam aktivitas yang berguna untuk mengasah daya imajinasi dan sensor motoriknya,” ujar pria yang pernah tinggal di Amerika itu.

Setelah itu, lanjut Indra, perkuat sekolah dasar. Gunakan anggaran pemerintah yang terbatas itu untuk memperbaiki SD yang rusak. Begitupun kualitas gurunya. Namun, persoalannya mengurus SD dinilai tak populer bagi politisi atau pejabat, jika dibandingkan mengurus sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Karena hasil dari pengelolaan SMK itu bisa terlihat dalam 3 tahun kedepan. Apalagi jika lulusan SMK banyak terserap di dunia kerja,” katanya

Menurut Indra, target SDM Indonesia unggul tak akan tercapai jika pola pikirnya seperti itu. Yang terpenting adalah perkuat pondasi yaitu pendidikan dasar, lalu bangun rumah diatasnya. Maka Indonesia akan mendapat SDM unggul.

“Masalahnya mau tidak presiden Jokowi mengurus pendidikan yang hasilnya baru akan kelihatan setelah 10-15 tahun kedepan,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Indra juga menanggapi survei World Reading Habits 2018 yang menunjukkan, minat baca orang Indonesia diatas penduduk sejumlah negara maju. Ia mengatakan, survei itu jika membaca judulnya akan menyesatkan. Karena surveinya hanya menghitung responden yang membaca di dalam perpustakaan.

Karena faktanya, penduduk di negara maju seperti Eropa dan Amerika, gemar membaca bukan lagi sebatas slogan, melainkan sudah dipraktikkan dalam bentuk kebiasaan.

“Kalau surveinya menyebut jumlah kunjungan ke perpustakaan di Indonesia lebih tinggi itu benar. Tetapi jika minat baca Indonesia lebih tinggi dari sejumlah negara maju, saya rasa belumlah,” kata Indra.

Saat ini, lanjut Indra, eranya orang membaca lewat e-book. Sehingga wajar jika jumlah kunjungan orang ke perpustakaan di negara maju menurun drastis. “Disayangkan, jika data semacam itu dilaporkan ke presiden. Karena data itu hanya permainan kata-kata,” ujarnya.

Indra menambahkan, begitupun dengan program pemberantasan buta aksara. Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik menyebut jumlah penduduk buta aksara hanya berkurang 110.000 orang per tahun.

Penurunan itu, menurut Indra, tidak signifikan bahkan cenderung stagnan. Pasalnya, Kemdikbud menggelontorkan ratusan miliar rupiah per tahun untuk beragam program literasi dan pemberantasan buta aksara. Sementara tingkat literasi penduduk Indonesia tetap rendah.

Sebelumnya, Kemdikbud merilis, jumlah penduduk buta aksara turun dari 3,4 juta menjadi 3,29 juta orang. Secara nasional, total penduduk buta aksara hingga tahun ini sekitar 1,93 persen dari total populasi penduduk.

Indra mengutip survei Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) yang menunjukkan, tingkat literasi Indonesia menempati ranking ke-62 dari 70 negara. Survei World Culture Index Score 2018 menunjukkan, kegemaran membaca masyarakat Indonesia menempati urutan ke-17 dari 30 negara.

“Buta aksara yang berkurang itu mungkin penderita buta aksara yang tahun ini meninggal. Karena sebagian besar dari penderita buta aksara berusia di atas 50 tahun. Soal kegemaran membaca, surveinya dilakukan di perpustakaan. Jadi tidak mewakili tingkat literasi secara umum,” ujarnya.

Ia menuturkan, buta aksara dan rendahnya tingkat literasi nasional mengancam masa depan Indonesia. Pasalnya, literasi menjadi modal utama bagi generasi bangsa. (Tri Wahyuni)