Pengamat: Penyesuaian Harga Gas Industri Harus Segera Dilakukan

0
Forum Group Discussion (FGD) Arah Baru Industri Hulu Migas, dengan tema Quo Vadis Kebijakan Penyesuaian Harga Gas di Jakarta, Kamis (25/8/2022). Foto: Istimewa.

JAKARTA (Suara Karya): Kenaikan harga gas dunia, harusnya menjadi perhatian pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian terhadap penjualan harga gas di Indonesia khususnya kepada sektor industri. Hal ini dilakukan agar terjadi keadilan usaha baik di sektor hulu maupun hilir.

Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan, mengungkapkan Harga jual Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri (HGBT) untuk industri saat ini sebesar USD 6 per MMBTU. Dengan kenaikan harga gas dunia, seharusnya pemerintah melakukan penyesuaian harga menjadi USD 7 per MMBTU.

“Saat ini HGBT untuk 7 sektor industri hanya USD 6 per MMBTU. Saya pikir pemerintah harus segera menyesuaikan harga agar dunia usaha di sektor ini tetap berkeadilan, baik dari sisi hulu maupun hilir,” kata Mamit dalam Forum Group Discussion (FGD) Arah Baru Industri Hulu Migas, dengan tema Quo Vadis Kebijakan Penyesuaian Harga Gas di Jakarta, Kamis (25/8/2022).

Menurutnya, pemerintah harus segera mengkaji usulan permintaan kenaikan harga gas industri tersebut. Kebijakan ini harus segera diputuskan, guna memberikan manfaat atau benefit untuk negara dan masyarakat.

“Perusahaan yang mendapatkan manfaat HGBT itu keuangannya hijau semua. Jadi perlu disesuaikan, supaya di hulu, untuk investasi gas dan infrastruktur juga terus berkesinambungan,” katanya.

Selain itu kata Mamit, pemerintah perlu melakukan evaluasi terkait kenaikan harga gas industri. Sejauh mana kenaikan harga gas industri tersebut  bermanfaat bagi perusahaan dan masyarakat.

“Kalau ada yang tidak terlalu bermanfaat buat masyarakat bisa diganti dengan industri lainnya,” ujar Mamit.

Selain itu, Mamit juga menyoroti rencana Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengusulkan 13 sektor tambahan penerima HGBT. Yakni industri ban, makanan dan minuman, pulp dan kertas, logam, permesinan, otomotif, karet remah, refraktori, elektronika, plastik fleksibel, farmasi, semen, dan asam amino.

Menurutnya usulan 13 sektor tambahan penerima HGBT sangat bagus. Oleh karena itu kenaikan harga gas industri tersebut perlu dipertimbangkan agar bisa meluas hingga 13 sektor industri.

Pasalnya, saat ini kenaikan harga gas industri baru baru menyasar tujuh sektor industri yakni, Industri Pupuk, Petrokimia, Oleokimia, Baja, Keramik, Kaca dan Industri Sarung Tangan Karet.

“Jadi sebelum Kebijakan ini diperluas perlu ada evaluasi. Seperti industri yang mendapat manfaat tersebut. Termasuk juga penyesuaian HGBT dari USD 6 per MMBTU menjadi USD 7 per MMBTU,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kurnia Chairi mengatakan pemerintahsudah mengamati peningkatan harga gas dunia belakangan ini.

“Penerimaan kita sebagian besar dari Migas. Jadi PNBP dari sektor ini sangatlah penting untuk pemasukan keuangan negara,” ujarnya. (Warso)