Pengamat: Perbanyak Kapal Ikan, Optimalkan Tambahan Kuota Ikan Tuna

0
Ilustrasi: Buruh membongkar muat ikan tuna sirip kuning kualitas ekspor hasil tangkapan nelayan di Ulee Lheu, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/9/2020). Produksi ikan tuna di perairan Indonesia diperkirakan mencapai 613.000 ton lebih per tahun yang diekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Singapura dan China. (ANTARA FOTO)

JAKARTA (Suara Karya): Pengamat kelautan dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim menginginkan kebijakan yang ada dapat difokuskan untuk memperbanyak kapal ikan bagi nelayan lokal dalam rangka memanfaatkan tambahan kuota regional tangkapan ikan tuna sirip biru.

“Terkait perolehan tambahan kuota dari CCSBT (Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna), pemerintah perlu lebih strategis dalam memanfaatkannya,” kata Abdul Halim di Jakarta, Senin.

Menurut dia, dengan memperbanyak kapal ikan bagi nelayan lokal maka sama saja dengan membuat pelaku usaha perikanan di dalam negeri untuk memperoleh keuntungan dari tambahan kuota tersebut.

Ia berpendapat bahwa langkah strategisnya adalah memobilisasi kapal-kapal ikan yang dekat dengan lokasi fishing ground atau kawasan penangkapan ikan tuna sirip biru.

Hal tersebut, lanjutnya, tentu saja dilakukan dengan memperhatikan keterlibatan dari nelayan serta pelaku usaha perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang beririsan dengan wilayah CCSBT.

Sebagaimana diwartakan Indonesia berhasil meraih tambahan kuota tangkapan ikan tuna sirip biru dari 1.023 ton untuk blok kuota tahun 2018-2020 menjadi sebesar 1.123 ton untuk blok kuota tahun 2021-2023. (Yunafry)