Pengamat: Rencana Penghapusan UN ke AKSI Tidak Tepat

0

JAKARTA (Suara Karya): Rencana pemerintah membuat AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia) sebagai pengganti ujian nasional (UN) ditanggapi pengamat pendidikan, Indra Charismiadji sebagai tindakan yang tak tepat. Baik UN maupun AKSI memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk pemetaan.

“Itu sih cuma ganti nama saja dari UN ke AKSI. Sama-sama mengeluarkan uang yang besar untuk fungsi yang sama, yaitu pemetaan,” peneliti dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas), di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melontarkan wacana penghapusan UN. Alasannya, UN tak lagi berdampak padahal memakan biaya yang sangat besar.

Di masa lalu, UN menjadi salah satu syarat kelulusan siswa. UN juga menjadi salah satu syarat untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. UN juga dipakai oleh daerah untuk seleksi penerimaan peserta didik baru, baik di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA).

Menurut Indra, skema penilaian kemampuan siswa mengunakan tes atau nilai tidak cocok lagi diterapkan di era Revolusi Industri 4.0. Skema penilaian siswa seharusnya dalam bentuk deskripsi.

“Karena nilai dianggap tidak konsisten. Meski sama-sama mendapat nilai delapan, setiap siswa belum tentu memiliki tingkat kecerdasan yang sama,” ujarnya.

Karena itu, Indra berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan atau perubahan zaman, tak sekadar ganti nama. “AKSI itu akan digunakan untuk apa. Apalagi katanya bentuknya targetnya hanya beberapa sekolah sebagai sampel,” katanya.

Ditambahkan, pelaksanaan UN saat ini sudah tidak cocok karena tes semacam itu tidak mencerdaskan. Bahkan, boleh dibilang membodohkan siswa. Karena siswa hanya berupaya untuk menghafal soal dan bagaimana cara menjawabnya supaya dapat nilai bagus.

“Yang dikejar hanya nilai, bukan kompetensi sesungguhnya. Jadi nilai bagus-bagus itu tidak mencerminkan kompetensi siswa yang sesungguhnya,” ucap Indra menandaskan. (Tri Wahyuni)