Pengembangan Pariwisata di Era Normal Baru Kedepankan CHSE

0

JAKARTA (Suara Karya): Pengembangan pariwisata di era normal baru harus mengedepankan CHSE (kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan). Hal itu merupakan adaptasi dari perubahan tren global yang lebih personal, terlokalisasi, disesuaikan dan berukuran lebih kecil.

“Dunia pariwisata di era normal baru tidak lagi sama dari masa lalu. Sekarang eranya pariwisata berbasis berkelanjutan yang mengedepankan CHSE,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno saat membuka webinar internasional yang digelar Program Doktoral Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Sabtu (26/3/22).

Webinar bertajuk ‘Gastronomy, Heritage, Tourism Marketing, Human Resources Management in The Field of Tourism’ itu diikuti sekitar 735 peserta yang terdiri dari mahasiswa, praktisi dan penggiat pariwisata di 7 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, China, Taiwan, Jepang, Filipina, Amerika Serikat, Kanada dan Australia.

Sedangkan pembicara menampilkan pakar pariwisata dari University of the Incarnate Word San Antonio, Texas, USA, Prof Halimin Herjanto, dari International Management Institute, Switzerland,
Prof Gavin RR Caldwell dan ahli gastronomi Indonesia, Chef Ragil Imam Prabowo.

Webinar dipandu Guru Besar dari James Cook University, Queensland, Australia yang juga staf pengajar di STP Trisakti, Prof Hera Oktadiana.

Sandiaga menambahkan, pihaknya mengembangkan sejumlah program dan kebijakan guna menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari ketahanan nasional. Satu diantaranya, pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis ekonomi kreatif dan nilai.

“Kami juga memperhitungkan jejak karbon dan off-settibg sebagai program baru. Program tersebut memasukan CHSE sebagai kunci pelaksanaan,” ujarnya.

Program strategis yang tengah dikembangkan tahun ini adalah desa wisata yang mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif, destinasi wisata prioritas, diversifikasi pariwisata berkualitas, pemulihan bisnis dan pengembangan ekosistem dengan akselerasi permodalan.

“Saya berharap webinar ini bisa memberi solusi terkait masalah pariwisata secara global serta kontribusinya dalam pengembangan pariwisata di Indonesia dan dunia,” kata Sandiaga menandaskan.

Pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan juga ditekankan Prof Halimin Herjanto. Karena upaya itu mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan.

“Selain juga peka terhadap kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat tuan rumah,” tuturnya.

Ditambahkan, pariwisata berkelanjutan memberi kontribusi positif bagi ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja.
Wisatawan juga menerima pengalaman yang lebih otentik.

“Dan yang terpenting, pariwisata berkelanjutan menghindari perpindahan penduduk setempat sehingga destinasi terse ut menjadi tempat yang lebih baik untuk dikunjungi. Keberlanjutan membantu melestarikan sumber daya dan memperbarui infrastruktur pariwisata destinasi,” ujar Prof Halimin.

Terkait era normal baru, Prof Halimin menyebut tren wisata masa depan dengan menggunakan teknologi. Sehingga tidak terjadi kontak dengan orang lain, hal yang dihindari orang saat pandemi.

“Strategis pengembangan pariwisata masa depan adalah berbasis teknologi, jauh dari massa, mempertimbangkan masalah kesehatan, perjalanan ramah iklim, kembali ke alam dan pendirian pusat-pusat komunitas,” ucapnya menandaskan.

Sementara itu, Prof Gavin Caldwell dari IMI Swiss mengungkapkan kondisi pariwisata di Eropa tahun ini di masa situasi pandemi namun mulai mereda, karena perbatasan sudah dibuka kembali dan industri perhotelan perlahan bangkit.

“Industri pariwisata akan bangkit, tetapi ada tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan. Kita perlu menyesuaikan kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan pariwisata di masa depan,” tuturnya.

Menurut Prof Caldwell, upaya pemulihan pariwisata di dunia butuh waktu. Ia menyebut beberapa peristiwa besar, seperti serangan teroris 9/11 yang memakan waktu 6-12 bulan. “New york tidak menderita setelah 6-12 bulan, jika pariwisata meningkat di new york,” katanya.

Ditambahkan, saat ini orang sedang menunggu kesempatan bepergian seperti di masa lalu. Sehingga kebangkitan pariwisata dunia akan lebih cepat dari perkiraan. “Mungkin ada syarat yang dibutuhkan untuk bisa bepergian keluar negeri. Tetapi mereka akan penuhi syarat itu demi bisa wisata lagi,” tuturnya.

Begitupun dengan pendidikan pariwisata. “Karena pendidikan mengacu pada kesempatan, maka orang-orang seperti IMI di Swiss dan STP Trisakti perlu menunjukkan kepada mahasiswanya bahwa kesulitan ada di luar sana, tetapi bersama-sama kita bisa menjadi lebih kuat,” ucap Prof Caldwell menegaskan.

Ahli gastronomi dari Indonesia, Chef Ragil mengatakan, kuliner juga bisa menjadi daya tarik dalam meningkatkan pariwisata di Indonesia.

“Ada 4 hal yang membuat kuliner menjadi menarik wisatawan. Pertama, harus ada cerita di balik setiap makanan, pemilihan lokasi yang unik, memiliki beberapa spesialisasi dan presentasi yang unik,” katanya.

Untuk itu, Chef Ragil menilai perlunya melakukan pemetaan makanan yang benar-benar dikonsumsi masyarakat di daerah tersebut. Lalu lakukan lingkaran penyiapan makanan mulai dari bahan, pasar, cerita sebagai produk makanan yang dapat dijual.

“Seperti kisah di balik pembuatan rendang atau katan sarikayo. Ini bisa jadi pengalaman bagi wisatawan yang ingin membuat rendang atau makanan daerah lainnya. Bagi operator tur yang ingin menjual pengalaman ini harus menetapkan biaya yang tepat,” ujarnya.

Dan tak ketinggalan, perlunya disiapkan buku gastronomi Indonesia. Buku resep masakan indonesia dari setiap daerah untuk diberikan sebagai oleh-oleh dan sebagai buku koleksi. Karena dari makanan bisa mendapatkan pengalaman yang mengasyikan juga bagi wisatawan.

Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati dalam sambutannya berharap webinar internasional itu dapat menjalin wadah kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, media dan masyarakat untuk mendorong kebangkitan ekonomi, baik tingkat nasional maupun internasional.

“Kegiatan itu tak saja bermakna bagi mereka yang berkecimpung di dunia pariwisata dan perhotelan di masa depan, tetapi juga menjaga kolaborasi yang baik dari semua lembaga terkait,” ucap Fetty.

Hal senada dikemukakan Kepala Departemen Doktoral STP Trisakti, Prof Sundring Pantja Djati. Webinar internasional merupakan salah satu upaya menumbuhkan suasana akademik di lingkungan STP Trisakti, khususnya mahasiswa program doktoral yang sedang menempuh studi.

“Weminar dan ‘research speed-dating’ ini diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi para akademisi dan peneliti pariwisata yang ingin mempresentasikan ide atau gagasan penelitian,” kata Prof Sundring menandaskan. (Tri Wahyuni)