Penguasaan Teknologi Farmasi dan Kesehatan di Indonesia Masih Rendah

0
(suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya):  Ketua Umum Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo menyatakan, masih rendahnya penguasaan teknologi kesehatan dan farmasi di Indonesia. Dengan demikian, pihaknya akan mendorong pengembangan teknologi dalam menumbuhkan kemandirian dan kemakmuran ekonomi secara berkelanjutan.

“Untuk diskusi ranah tata sejahtera (material teknologikal) yang sudah dilaksanakan beberapa kali sebelum ini, kerjasama pelaksanaannya diperluas dengan menggandeng Akademi Ilmu Pengetahun Indonesia (AIPI) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI),” kata Pontjo saat FGD virtual, Jumat (18/9/2020).

Lebih lanjut Pontjo menjelaskan, Isu yang akan kita diskusikan kali ini, penting menjadi perhatian kita bersama, karena ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi, yang telah menyebabkan terjadinya transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Base Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan dan informasi (Knowledge Base Economy).

Kekuatan suatu bangsa diukur dari kemampuan Iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan, dan energi untuk peningkatan daya saing. Karenanya, peningkatan kapasitas Iptek dan produktivitas adalah kunci sukses meraih daya saing berkelanjutan yang sangat menentukan kemandirian ekonomi suatu bangsa.

Mengingat begitu pentingnya peran Iptek bagi kemandirian ekonomi dan kemajuan sebuah bangsa, apalagi Indonesia telah bertekad menjadi negara maju pada tahun 2045, maka mendesak bagi Indonesia untuk meningkatkan penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi yang saat ini memang masih jauh ketinggalan.

Rendahnya penguasaan teknologi Indonesia saat ini, dapat kita telusuri dari beberapa indeks yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga internasional. Ukuran yang berkaitan dengan TFP dan knowledge economy index misalnya, menunjukkan betapa rendahnya kontribusi nilai tambah iptek dan tingkat inovasi Indonesia bagi pertumbuhan ekonomi. Sampai dengan tahun 2016, kontribusi TFP terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya kisaran 1%, bandingkan dengan Korea Selatan 14% dan Taiwan 24%. Ini menandakan rendahnya kemajuan teknologi di Indonesia.

Untuk memotret perkembangan kemajuan teknologi Indonesia, beberapa tahun yang lalu, Aliansi Kebangsaan bekerjasama dengan Lingkar Kajian Ekonomi Nusantara (LKEN) melakukan suatu penelitian dan kajian terhadap isu tersebut. Hasil kajian ini menemukan keterbelakangan teknologi dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dilihat dari rata-rata kontribusi total factor productivity (TFP) yang masih sangat rendah bahkan dalam periode tertentu berada pada posisi negatif.

Dengan kemampuan penguasaan teknologi yang masih rendah, rasanya sulit bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan kemandirian dan kemakmuran ekonomi secara berkelanjutan. Indonesia harus mengejar ketertinggalan teknologi ini. Tanpa penguasaan teknologi, mustahil Indonesia akan mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam bidang ekonomi. Kesadaran dan mindset seperti inilah yang harus dibangun sehingga kita memiliki “visi Iptek” yang jelas untuk mendorong dan mengikat semua pihak dalam melakukan berbagai terobosan berbasis Iptek.

Dalam mengejar ketertinggalan teknologi, Indonesia dapat mencontoh keberhasilan negara-negara lain. Berdasarkan pengalaman dari negara-negara lain, beberapa hal elementer yang harus diperhatikan oleh Indonesia, antara lain adalah (1) pengembangan inovasi teknologi sudah seharusnya diprioritaskan pada sektor unggulan; dan (2) pentingnya penguatan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi/lembaga riset, industri/dunia usaha, dan masyarakat.

Dalam pengembangan inovasi teknologi pada “sektor unggulan”, sudah seharusnya Indonesia memberikan prioritas pada pengembangan kekhasan potensi Indonesia yang bisa memberi nilai tambah terhadap keunggulan komparatif (comparative advantage) yang kita miliki. Dalam diskusi publik di IPB bulan Februari 2020 yang lalu, kita telah mendiskusikan pengembangan inovasi teknologi dalam sektor pertanian dan pangan. Hari ini, kita akan fokus mendiskusikan pengembangan inovasi teknologi dalam sektor kesehatan dan farmasi. (Andara Yuni)