Pentingnya Kaum Muda Merasakan Jejak-jejak Rempah di Nusantara

0

JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 168 mahasiswa dari 34 provinsi mengikuti kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah yang baru digelar pertama kali ini. Mereka diajak bernapak tilas guna merasakan jejak-jejak rempah di Nusantara, sebuah jalur budaya yang sedang diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“Internalisasi Jalur Rempah yang masif di masyarakat akan menjadi salah satu kriteria penilaian UNESCO,” kata Direktur Pengembangan dan Pemanfataan Kebudayaan, Restu Gunawan dalam webinar bertajuk ‘Silaturahmi Merdeka Belajar’ (SMB), yang digelar Kamis (9/6/22).

Lewat kegiatan muhibah, lanjut Restu, mahasiswa diajak merasakan serta memaknai kehidupan maritim nenek moyang bangsa Indonesia. Hal itu akan menjadi bekal dalam membangun negeri di masa depan.

“Jalur Rempah ini tak sekadar proyek. Ini adalah kerja bersama antara Kemdikbudristek, TNI Angkatan Laut, pemda, dan komunitas dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkesinambungan,” ujarnya.

Ditambahkan, pelayaran ini juga tak sekadar berlayar, tapi menyambungkan budaya antarsatu titik dengan titik yang lain. Sehingga diperoleh informasi apa yang menjadi keunggulan di daerahnya masing-masing, mulai dari kekayaan alam hingga ilmuwan di daerah tersebut.

Restu menceritakan pengalamannya saat menyusuri rute jalur rempah dari Surabaya ke Makassar, dimana mahasiswa tak sekadar diberi teori, tetapi juga merasakan sendiri bagaimana berlayar seperti nenek moyang di masa lalu.

“Mereka diajarkan bagaimana menarik layar kapal secara benar, membaca dan mengenali gejala alam dan melakukan penyelematan jika terjadi sesuatu. Hal itu akan menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk menginspirasi diri dan orang di sekitar,” katanya.

Jalur Rempah mencakup berbagai lintasan jalur budaya yang melahirkan peradaban global dan menghidupkan kembali peran masyarakat Nusantara berabad-abad lampau. Program itu juga bertekad untuk menghidupkan kembali narasi sejarah dengan memperlihatkan peran masyarakat Nusantara dalam pembentukan Jalur Rempah.

“Kami dokumentasikan peran mereka di berbagai wilayah perdagangan rempah; dan merekonstruksi serangkaian benang merah dalam satu bangunan sejarah,” tutur Restu.

Wali Kota Ternate Provinsi Maluku Utara, M Tauhid Soleman menyatakan, pihaknya begitu bersemangat terlibat dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah. Melalui kegiatan itu, diharapkan roda perekenomian daerah Ternate ikut bergerak signifikan.

“Kami juga tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka, semoga kegiatab ini dapat memberi kontribusi agar Jalur Rempah bisa diakui sebagai warisan dunia UNESCO,” ujar Tauhid.

Pernyataan senada dikemukakan Kolonel Laut (P) NRP 12615/P PABAN II OPS SOPSAL, Amrin Rosihan. Ia berharap para peserta dan 55 personil kapal Dewaruci bisa memaknai pelayaran ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah nenek moyang bangsa Indonesia.

“Selain juga menjadikan peserta sebagai pemuda berkarakter maritim yang akan memperkuat visi pemerintah dengan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” jara pria kelahiran Ternate itu.

Jalur Rempah mencakup berbagai lintasan jalur budaya dari timur Asia hingga barat Eropa terhubung dengan Benua Amerika, Afrika, dan Australia. Suatu lintasan peradaban bermacam bentuk, garis lurus, lingkaran, silang, bahkan berbentuk jejaring.

Di Indonesia, jalur perniagaan rempah mencakup banyak hal. Tak hanya berdiri di satu titik penghasil rempah, tetapi juga mencakup berbagai titik yang bisa dijumpai di Indonesia dan membentuk lintasan peradaban yang berkelanjutan.

Muhibah Jalur Rempah dilaksanakan sejak 1 Juni dan berakhir pada 2 Juli 2022. Sebelumnya, peserta yang disebut sebagai Laskar Rempah mendapat pembekalan materi terkait pengenalan umum Jalur Rempah, Cagar Budaya, dan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Kemdikbudristek.

Selain itu, mereka juga mendapat materi pengetahuan dan informasi tentang budaya bahari, Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci, astronomi, praktik navigasi, Basic Training Safety oleh TNI AL, serta hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum berlayar. (Tri Wahyuni)