Pentingnya Literasi Digital bagi Gen Z, Tangkal Dampak Negatif Internet

0

JAKARTA (Suara Karya): Kreator konten Yosi Mokalu mengajak orangtua untuk ikut menanamkan nilai moral dan etika pada Gen Z agar mampu menangkal dampak negatif dari internet. Nilai moral dan etika menjadi penting supaya tak mudah baper (bawa perasaan) di media sosial.

“Anak harus diberi tahu tak boleh menulis hal-hal yang mengandung kebencian dan hoaks karena bisa berurusan dengan hukum, seperti diatur dalam Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik),” kata Yosi yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Figital (GNLD) Siberkreasi dalam siaran pers, Selasa (9/8/22).

Talkshow bertajuk ‘Cakap Berdigital, Harumkan Media Sosial’ yang digelar di Manado, Sulawesi Utara itu juga menghadirkan narasumber lain seorang figur publik Melaney Richardo serta penulis yang juga CEO Provetics, Iwan Setyawan.

Hal senada dikemukakan Melaney Richardo. Pentingnya literasi digital diberikan kepada Gen Z karena mereka hidup di zaman serba digital dan banyak waktu dihasilkan lewat interakdi di ruang digital.

“Supaya tidak merusak karakter mereka, dibutuhkan aturan atau tata krama di ruang digital. Misalkan kasus bullying yang marak terjadi di dunia digital. Seharusnya hal semacam itu tak boleh terjadi kalau anak paham literasi digital,” kata Melaney.

Untuk itu, pentingnya orangtua juga ikut belajar literasi digital karena bisa menjadi role model bagi anak. “Anak belajar sesuatu dari teman-teman sebayanya. Karena itu, orangtua harus bisa menjadi role model bagi anak agar kegiatan yang di dunia digital tetap terkontrol,” ujarnya.

Selain membahas soal etika dan budaya berdigital, sesi tersebut juga membahas bagaimana cara dan tips untuk anak muda Indonesia yang ingin berkarya di ruang digital menjadi kreator konten.
Pentingnya talenta dan kepedulian sebagai langkah awal dan motivasi dalam membuat konten yang menarik tanpa perlu merugikan orang lain.

“Intinya adalah konsisten dalam membuat konten. Tidak masalah jika viewers atau likes hanya sedikit, namanya saja pemula. Semua youtuber handal pun bermula dari viewers yang sedikit, tetapi karena konsisten, maka orang seperti Raisa ataunGAC bisa menjadi terkenal seperti sekarang,” kata Yosi Mokalu menambahkan.

Acara talkshow tersebut merupakan bagian dari kegiatan Literasi Digital yang digelar bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dengan
GNLD Siberkreasi dan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Indonesia Maju. Acara tersebut dihadiri sekitar 800 peserta.

Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat makin cakap digital serta mampu menciptakan ruang digital dengan bijak, produktif, aman dan
positif.

Karena hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang dilakukan
Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 menunjukkan, Indonesia masih menduduki kategori -sedang’ dalam kapasitas literasi digital dengan nilai angka sebesar 3.49 dari 5.00.

Kegiatan itu dibuka Ketua Umum OASE Kabinet Indonesia Maju, Tri Siswati. Katanya, IT menjadi kebutuhan yang esensi saat ini. Karena itu setiap orang harus belajar bertanggung jawab dalam penggunaannya.

“Salah satu penyebab rusaknya generasi muda masa kini adalah arus informasi yang datang begitu cepat, bahkan dalam hitungan menit. Tidak ada lagi batasan dimana informasi bisa langsung diserap oleh pengguna telepon pintar,” ujarnya.

Pesatnya kemajuan teknologi menjadi bagian dari kehidupan kita semua. Sebagai benteng pertahanan untuk terhindar dari bahaya arus informasi adalah mendapat pemahaman seputar literasi digital.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw, menyatakan masyarakat dituntut melek digital agar mampu menciptakan ruang digital yang
positif dan bijak.

“Tak hanya persoalan hak kita untuk bisa memanfaatkan ruang digital, tetapi juga bagaimana kita memanfaatkan ruang digital itu secara bijak,” ujar Steven Kandouw menandaskan. (Tri Wahyuni)