Perayaan Imlek Nasional akan Digelar 7 Februari di Kemayoran

0
Foto: (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Perayaan Imlek Nasional akan digelar secara meriah pada 7 Februari mendatang di JiExpo Kemayoran, Jakarta. Atraksi yang ditampilkan merupakan kolaborasi antara budaya Indonesia dan Tionghoa, mulai dari Barongsai, Reog hingga Ondel-Ondel.

“Hal itu sesuai dengan tema acara yaitu merajut kebhinekaan dan memperkokoh persatuan. Tak hanya atraksi, tetapi juga kuliner yang disajikan, ada menu-menu dari Indonesia dan Tionghoa,” kata Ketua Panitia Imlek Nasional 2019, Sudhamek di Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Sudhamek dalam kesempatan itu didampingi Teddy Sugianto dan David Herman Jaya sebagai wakil ketua panitia, sekretaris Eddy Hussy dan Ulung Rusman, serta Pui Sudarto, Husin Widjajakusuma dan Ferry Salman sebagai bendahara.

Ia menjelaskan, Tahun Baru Imlek sejak 2003 lalu ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sebelumnya libur pada Imlek hanya diberikan kepada mereka yang merayakan, sesuai dengan Keppres No 6/2000 tentang Pencabutan Inpres No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina.

“Meski Imlek telah menjadi libur nasional, dalam merayakannya, kita tak boleh lupa budaya dari bumi tempat kita dilahirkan. Karena itu peringatan Imlek dibuat dalam bentuk pencampuran budaya Indonesia-Tionghoa, yang menandakan kami ingin tetap bersatu dalam kebhinekaan Indonesia,” tuturnya.

Pemilik kelompok usaha Garudafood itu menjelaskan, Tahun Baru Imlek sebenarnya suatu perayaan untuk menyambut datangnya musim semi di daratan Tiongkok. Perayaan diisi dengan rangkaian kegiatan berupa doa, kumpul bersama keluarga dan kerabat sambil makan menu khas berupa ikan bandeng, pangsit dan kue keranjang.

“Lewat perayaan tersebut, setiap orang memohon doa agar diberi keberuntungan dan harapan yang baik di tahun mendatang,” kata Sudhamek yang berharap banyak warga yang datang untuk meramaikan perayaan yang digelar hingga 10 Februari 2019.

Ditambahkan, akulturasi budaya juga terlihat dari desain yang ditampilkan yang banyak menggunakan warna merah dan putih serta motif batik khas Cirebon, mega mendung.

“Begitu pun acara musiknya. Kami akan menggunakan alat musik klasik Guzheng untuk mengiringi lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Dan alat musik kolintang untuk mengiringi lagu-lagu Indonesia dan Mandarin,” katanya.

Pada bagian akhir penjelasannya, Sudhamek berharap Tahun Baru Imlek 2570 atau 2019 Masehi menjadi lantunan kebaikan dalam spektrum yang lebih luas. Hal itu sekaligus menjadi harapan warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. (Tri Wahyuni)