Perekonomian Banten Triwulan IV/2018 Tumbuh 5,98 persen

0
Perekonomian Banten Triwulan IV/2018 tumbuh 5,98 persen.

SERANG (Suara Karya): Perekonomian Banten pada triwulan IV/2018 tumbuh sebesar 5,98 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III/2018 yang tumbuh 5,89 persen (yoy), dan juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional triwulan IV/2018 sebesar 5,18 persen (yoy).

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Satuan Layanan Administrasi Erry P. Suryanto di Serang, Kamis (21/3), mengatakan secara spasial, pertumbuhan ekonomi Banten merupakan tertinggi ketiga di Kawasan Jawa, setelah Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi DKI Jakarta.

Meningkatnya kinerja konsumsi rumah tangga, swasta, dan investasi menjadi faktor pendorong tingginya pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten dari sisi permintaan. Dari sisi penawaran pertumbuhan ditopang oleh lapangan usaha (LU) pertanian, perdagangan, akomodasi & makan minum, konstruksi, dan industri pengolahan, katanya.

Secara keseluruhan tahun 2018, kata Erry, perekonomian Banten tumbuh 5,81 persen (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 5,73 persen (yoy).

Dilihat dari periode tahunan, berdasarkan sisi penawaran seluruh LU mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan didukung oleh terutama LU perdagangan, LU informasi & komunikasi, LU Real Estate, LU Jasa Keuangan, LU Akomodasi dan Makan Minum, dan LU Konstruksi. Selain itu, sektor industri masih menjadi kontributor utama pendorong perekonomian Provinsi Banten.

Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV/2018 tumbuh sebesar 5,53 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,39 persen (yoy).

Pertumbuhan konsumsi ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada momen libur Hari Raya Natal dan tahun baru yang didukung oleh meningkatnya pendapatan masyarakat serta terjaganya daya beli masyarakat dari sisi inflasi. Kinerja konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) juga masih tumbuh cukup tinggi pada triwulan berjalan sebesar 6,19 persen (yoy) meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III 2018 sebesar 7,09 persen (yoy).

Pertumbuhan LNPRT antara lain didorong oleh pengeluaran dalam rangka persiapan kampanye pilpres dan pileg bulan April 2019 serta belanja sektor swasta dalam bentuk bantuan sosial untuk korban bencana tsunami Selat Sunda pada akhir tahun 2018.

Sejalan dengan hal tersebut, kinerja investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga tumbuh meningkat, yaitu tumbuh 7,88 persen (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2018 sebesar 7,10 persen (yoy).

Erry mengatakan kinerja investasi tumbuh ditopang terus berlanjutnya pembangunan proyek-proyek strategis nasional serta beberapa proyek pembangunan swasta.

Sementara itu, kinerja ekspor pada triwulan IV/2018 tumbuh lebih rendah dari sebelumnya 10,22 persen (yoy) menjadi 4,11 persen (yoy).

“Ini disebabkan oleh turunnya aktivitas ekspor luar negeri pada beberapa sektor unggulan antara lain alas kaki, TPT, kertas, dan kimia,” katanya.

Meskipun demikian, ekspor antar daerah yang menjadi penopang sebagian besar kinerja ekspor Provinsi Banten tumbuh positif. Impor tumbuh lebih rendah sebesar 4,44 persen (yoy) seiring melambatnya impor barang modal dan bahan baku. Triwulan ini, neraca perdagangan luar negeri berada pada posisi net impor.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2018 meningkat antara lain dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk, pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah leisure-spending serta cenderung meningkatnya konsumsi masyarakat pada momen liburan akhir tahun dan Hari Raya Natal.

Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2018 yang tumbuh sebesar 5,53 persen (yoy) sebagai sumber pertumbuhan utama perekonomian Provinsi Banten berkontribusi sebesar 3,15 persen (yoy), atau meningkat dibandingkan kontribusi pada triwulan III 2018 yang tercatat sebesar 3,06 persen (yoy).

“Ini sejalan dengan hasil survei konsumen Bank Indonesia Provinsi Banten yaitu indeks keyakinan konsumen dan indeks konsumsi barang tahan lama berturut-turut sebesar 121 dan 111 pada triwulan IV 2018. Indeks tersebut cukup tinggi dan mengindikasikan optimisme masyrakat meskipun lebih rendah dibandingkan hasil survei triwulan sebelumnya,” kata Erry. (Wisnu)