Pergeseran Hari Maulid, Waket DPD RI: Lebih Penting Teladani Sikap dan Akhlaq Nabi

0
Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan B Najamudin. Foto: Humas DPD RI

JAKARTA (Suara Karya): Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan B Najamudin meminta umat Islam Indonesia tidak mempersoalkan digesernya hari peringatan Maulid Nabi dari tanggal 19 ke tanggal 20 Oktober oleh pemerintah.

“Peringatan maulid merupakan simbol kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, tapi yang paling penting bagi kita sebagai umatnya adalah bagaimana membuktikan rasa Cinta itu dengan meneladani sikap dan akhlak Beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadilah umat Muhammad yang substansial,” ungkap Sultan di Jakarta pada Selasa (19/10).

Menurutnya, pemerintah tentu memiliki pertimbangan dan tanggung jawab untuk mengatur ruang sosial masyarakat yang bertujuan untuk menghindari kemudhorotan atau hal-hal yang berpotensi menyebabkan kejadian yang berdampak fatal di masa pandemi Covid-19 ini.

“Kaidahnya jelas, bahwa menghindari kemudhorotan itu lebih utama daripada mendapatkan keutamaan sebuah kebaikan,” jelas Sultan.

Menurut Sultan, warga seharusnya mengikuti pemerintah. “Sebagai warga bangsa yang bijak, kita harus tetap waspada dan mentaati setiap himbauan dan aturan ulil amri atau pemerintah. Karena masih sangat mungkin terjadi ledakan baru Covid-19, jika kita ceroboh dan tidak taat protokol kesehatan dan himbauan pemerintah,” ujarnya.

Saat ditanya tentang pesan dan kesan peringatan Maulid kali ini, pimpinan lembaga tinggi negara termuda ini mengungkapkan bahwa dirinya sangat terinspirasi dengan sikap politik Rasulullah Muhammad SAW ketika mempersatukan penduduk Madinah yang cukup heterogen dengan konsensus sosial yang terkenal yaitu perjanjian Hudaibiyah atau Piagam Madinah.

“Sebagai bangsa yang bhineka, kita patut meneladani keberanian moral dan kebesaran jiwa politik Rasulullah dalam menata kehidupan sosial politik dan ekonomi negara Madinah dengan prinsip kesetaraan dan keadilan. Beliau peletak dasar prinsip Negara Bangsa,” kata Sultan. (indra)