Perguruan Tinggi di Aceh Galang Sinergitas Hadapi Covid-19

0

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah perguruan tinggi di Aceh menggalang sinergitas dalam menghadapi pandemi corona virus disease (covid-19) di wilayahnya. Sinergi tersebut digawangi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Hal itu dikemukakan Rektor Unsyiah Samsul Rizal saat telekonferensi dengan Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam, Jumat (17/4/20).

Telekonferensi itu diikuti 40 perwakilan dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Aceh.

Samsul Rizal menjelaskan, pihaknya saat ini telah membentuk gugus tugas untuk pencegahan covid-19 di perguruan tinggi mulai dari pembelajaran daring hingga pembuatan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan.

“Kami juga menyiapkan uji laboratorium PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk rapid test. Semoga izin kita dapatkan minggu depan,” ujarnya.

Samsul Rizal menambahkan, pihaknya juga melakukan persiapan untuk menerima pasien covid-19 di RS PTN Unsyiah, selain membuat APD berupa face shield oleh mahasiswa teknik, edukasi publik, penyiapan tenaga kesehatan dan penggalangan donasi.

Plt Dirjen Dikti, Nizam dalam kesempatan itu memberi apresiasi kepada perguruan tinggi di Aceh, karena tetap berpartisipasi aktif selama pandemi covid-19. Pembelajaran tetap berjalan di tengah masa pandemi.

Terkait kebijakan Kemdikbud selama pandemi covid-19, Nizam mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah dan akademisi untuk bekerja dan belajar dari rumah. Ia juga sudah minta kepada RS milik perguruan tinggi negeri dan Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia untuk berada di garis terdepan dalam penanganan covid-19.

“Koordinasi kegiatan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. Termasuk keberasaan 15 ribu relawan kesehatan yang dilatih daring oleh badan kesehatan dunia WHO, Kemkes dan dokter spesialis. Sebagian dari mereka sudah di BKO (Bawah Kendali Operasi) Kemkes untuk promotif dan preventif,” ujarnya.

Nizam menambahkan, jika ada yang membutuhkan pendampingan relawan secara daring atau konsultasi jarak jauh dapat dilakukan melalui tautan relawan.kemdikbud.go.id atau lewat aplikasi Relawan Covid-19 Nasional (Recon).

Selain itu, lanjut Nizam, Kemdikbud juga menyediakan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) dan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) di 34 provinsi. Asrama yang mereka miliki dapat digunakan untuk karantina diri atau isolasi diri, terutama pekerja migran yang kembali ke kota asal. Tersedia 18.000 tempat tidur secara nasional.

Nizam menambahkan, sesuai Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka, perguruan tinggi diminta bersikap adaptif. Pimpinan perguruan tinggi dalam mengambil kebijakan harus sesuai dengan situasi setempat, termasuk pengaturan jadwal pembelajaran, bisa diperpanjang atau diperpendek.

“Perlu ditekankan lagi, pembelajaran daring tak perlu dilakukan secara synchronous atau bersama-sama, tapi bisa memanfaatkan hal lain seperti pesan singkat melalui aplikasi WA atau pembagian tugas melalui surel atau sms,” kata Nizam seraya menjelaskan sikap adaptif yang dimaksud dalam sistem pembelajaran saat ini.

Nizam menyebutkan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan sistem data satu pintu (PDDIKTI) yang akan menampung segala keperluan pendidikan tinggi seperti pelaporan kinerja dosen, penelitian, akreditasi dan lain-lain. Dengan demikian, tak ada lagi sistem double entry yang menghambat administrasi perguruan tinggi.

“Ruang merdeka untuk dosen juga dibuka seluas-luasnya dengan mengapresiasi karya (seni, teknologi, inovasi, dan lain-lain) atau kegiatan kemanusiaan. Peraturannya sedang digodok melalui perubahan PAK, Permendikbud dan Permenpan RB.

“Dengan begitu, Kebijakan Kampus Merdeka dirasakan para dosen. Dengan membuka ruang apresiasi bagi dosen dan peneliti, harapannya peran dosen menjadi optimal,” katanya. (Tri Wahyuni)