Peringati HGN ke-27, Mendikbudristek Janjikan 3 Hal ke Guru

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menjanjikan tiga hal pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-27 yang digelar di Gedung JIEXPO Jakarta, Kamis (25/11/21).

Tiga janji itu, Nadiem menyebutkan, pemerintah tahun depan akan terus mendorong rekrutmen pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), untuk memastikan semua guru honorer bisa ikut tes seleksi. Mereka yang lolos seleks akan dapat formasi, sehingga guru honorer pun bisa lebih sejahtera.

“Kesejahteraan guru, terutama guru honorer menjadi prioritas utama pemerintah. Bagaimana guru bisa berkualitas, jika tidak mampu menafkahi keluarganya,” ujarnya.

Program kedua, Kemdikbudristek akan meluncurkan berbagai platform teknologi untuk meningkatkan kualitas dan mutu guru. Kebijakan itu tak sekadar proyek bagi-bagi laptop dan projektor, tetapi berbentuk pelatihan online yang bisa diikuti guru secara mandiri sesuai kebutuhan masing-masingm

“Nantinya para guru tak hanya belajar teori, tetapi juga praktik yang relevan dengan kebutuhan. Pelatihan akan dibuat praktis. Sehingga guru paham yang dipelajari dan bisa menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari,” tuturnya.

Program ketiga adalah kurikulum yang bisa lebih dimengerti guru. Sehingga guru merasa merdeka dalam pembelajaran. Namun, hasil akhirnya tetap harus berkualitas.

“Kemdikbudristek menawarkan kurikulum yang jauh lebih merdeka bagi guru. Saat ini, kurikulum sedang diujicoba di sekolah-sekolah penggerak,” tuturnya.

Nadiem menegaskan, kurikulum yang ditawarkan tahun depan bukan karena jargon ‘setiap ganti menteri ganti kurikulum’. Tetap menggunakan kurikulum lama, tetapi lebih member kemerdekaan kepada guru.

Kurikulum akan dibuat lebih fleksibel, sehingga guru boleh mengadaptasi sesuai kebutuhan dan kemampuan murid-muridnya. Tak ada lagi penyeragaman kurikulum. Kurikulum tidak sama pada setiap daerah

“Banyak hal menarik akan diluncurkan tahun depan. Kami minta para guru untuk sabar. Karena itu, tolong desak semua kepala dinas untuk membuka sekolah tatap muka untuk mengejar ketertinggalan pelajaran,” katanya.

Mendikbudristek berterima kasih pada para guru yang berkorban selama masa pandemi. Mereka mendatangi para siswa yang terkendala teknologi agar tidak tertinggal pelajaran. “Terimakasih pula untuk para guru yang gaptek (gagap teknologi) tetapi mau belajar semua platform teknologi,” katanya.

Apalagi, lanjut Nadiem, guru yang harus menyambi berjualan di pasar, karena ekonomi keluarganya terdampak di masa pandemi. Sehingga waktu dihabiskan selang-seling antara mengajar dan berjualan di pasar.

“Saya senang, meski sedang susah, tak satupun guru yang mengaku putus asa. Hal itu sangat menginspirasi saya,” kata Nadiem menandaskan. (Tri Wahyuni)