Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Sunpride Targetkan Kemitraan 3 Ribu Petani Buah

0

JAKARTA (Suara Karya): Sunpride menargetkan kemitraan dengan 3 ribu petani buah di Indonesia. Hal itu diharapkan dapat memperkuat ekonomi ekonomi kerakyatan.

“Kemitraan yang kami bangun dipastikan menguntungkan para petani. Harga stabil, karena hasil panen langsung masuk pasar. Tak ada campur ‘tangan’ pihak lain,” kata CEO of Farmers Empowerment Partnership, Jane Fransisca disela peringatan 27 tahun Sunpride di Indonesia, di Jakarta, Kamis (22/12/22).

Jane menjelaskan, Sunpride telah bermitra dengan petani buah lokal sejak 2006, dimulai dari petani jeruk di Jawa Timur hingga kini menjadi 1.000 petani buah.

Mereka tergabung dalam sejumlah kelompok tani, antara lain Petani Pisang di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, serta Petani Melon di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ditanya apakah pernah mendapat intimidasi dari para pedagang saat bermitra dengan petani, Jane mengatakan, hal itu tidak pernah terjadi. Karena Sunpride tidak membeli produk, tetapi mengajak petani untuk menjadi mitra.

“Awalnya sulit sekali mengajak petani menjadi mitra. Tapi kami coba dulu dengan sejumlah petani jeruk di Jawa Timur. Ketika hasilnya menguntungkan, para petanilah yang mendatangi saya untuk bergabung,” tuturnya.

Kemitraan yang dikembangkan Sunpride meliputi penyediaan bibit, pendampingan mulai dari proses budi daya, tanam, perawatan, panen hingga proses pascapanen seperti penyortiran dan pengemasan.

“Ibaratnya petani hanya menyediakan lahan dan komitmen untuk bekerja keras. Sisanya kami yang tangani. Termasuk kepastian dan kontinuitas pembelian hasil panen,” kata Jane menegaskan.

Semua itu dilakukan, lanjut Jane, karena peningkatan hasil panen dari petani buah dengan kualitas terbaik menjadi prioritas Sunpride. Apalagi pascapandemi, dimana para petani sebagai penggerak ekonomi kerakyatan harus bisa menjawab tantangan ekonomi yang ada.

Sementara itu, CEO Fresh Fruit and Go To Market (GTM) Great Giant Foods (GGF), Cindyanto Kristian mengemukakan, selama 27 tahun di Indonesia, Sunpride senantiasa mengembangkan supply chain untuk menjual hasil mitra petani dan menciptakan akses ke pasar.

“Jaringan distribusi Sunpride sudah ada di kota-kota besar di Indonesia,” ucapnya menegaskan.

Sunpride juga terus membangun fasilitas ‘ripening’ (pematangan) untuk pemenuhan kebutuhan buah-buahan berkualitas. Fasilitas ripening terintegrasi dibangun di Bali.

“Sunpride saat ini satu-satunya brand buah di Indonesia yang menerapkan teknologi Sunpride ‘blockchain traceability’ untuk pisang mas dan melon,” ucap Cindyanto.

Lewat teknologi itu, Sunpride bisa tahu kondisi buah di setiap tahapan, mulai dari petani hingga tiba di toko, sehingga menjaga kualitas buah yang dikirim. Bagi konsumen, barcode tersebut dapat memberi informasi asal usul buah dari petani di daerah mana.

Keuntungan bagi petani, teknologi akan memberi masukan secara reguler atas kualitas buah yang dikirimkan. Sehingga bisa dilakukan peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Teknologi ‘blockchain traceability’ diimplementasikan pada pisang mas pada 2021. Teknologi itu berlanjut ke Golden Red Melon dengan mitra petani buah lokal di Gresik pada 2022.

Cindyanto menambahkan, Sunpride juga berupaya menerapkan ‘sustainable circular economy’ sehingga hasil panen dimanfaatkan secara maksimal. Pisang yang tidak memenuhi standar ukuran pasar akan dibuat produk makanan dan minuman berbasis buah, dengan memberi nilai tambah pada buah tersebut.

“Pisang cavendish ukuran kecil yang biasanya ada dipinggir, kita buat kripik pisang aneka rasa bernama Sunpride Lyfe. Produk tersebut diluncurkan pada awal 2022,” ucap Cindyanto.

Upaya kemitraan yang dibangun Sunpride mendapat apresiasi dari Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso. Katanya, kemitraan dalam bentuk pendampingan itu sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mendorong sinergi yang lebih kuat dan luas antara kelompok usaha besar, pemerintah dan masyarakat.

“Hal itu akan mengurangi kesenjangan sosial. Peningkatan keterampilan dan kesempatan berusaha, pada akhirnya akan memajukan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Selain pendampingan, Sunpride juga membangun juga kemitraan dengan koperasi di berbagai daerah di Indonesia melalui GGF.

Seperti dikemukakan Jane, kemitraan melalui koperasi sejauh ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani anggotanya.

Ia mencontohkan salah satu mitra Sunpride, yaitu Koperasi Tani Hijau Makmur yang beranggotakan lebih dari 1,000 orang petani di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Petani berhasil menggarap lebih dari 400 hektar lahan pohon pisang, yang produksinya bisa mencapai lebih dari 100 ton per bulan.

Hal itu dibenarkan Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi. Katanya, kemitraan antara UMKM, termasuk petani, melalui koperasi dengan usaha besar menjadi prioritas guna mendorong UMKM naik kelas.

“Kami percaya, kemitraan dengan usaha besar, koperasi dapat ikut membantu para petani untuk mengoptimalkan produksinya secara konsisten, sekaligus membantu saat berhadapan dengan pasar,” ucap Ahmad Zabadi.

Pada bagian akhir acara, Sunpride menyerahkan bantuan bibit dan peralatan pertanian secara simbolis kepada Mitra Petani Sunpride. (Tri Wahyuni)