Perkuat Penanganan Covid-19, Kemkes Turunkan Tim Khusus ke Tangsel

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan menurunkan tim khusus ke Kota Tangerang Selatan, Banten guna memperkuat penanganan corona virus disease (covid-19). Hal itu sebagai konsekuensi masuk dalam daftar 1 dari 7 wilayah di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi) dengan kenaikan kasus yang cukup signifikan.

Tim Task Force yang dipimpin Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kemkes, Rita Rogayah meninjau secara langsung pengendalian covid-19 di wilayah Tangsel, mulai dari kesiapsiagaan, fasilitas layanan kesehatan, sumber daya manusia (SDM) kesehatan hingga farmasi dan alat kesehatan.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 25 September 2020 mencatat, ada 1.078 kasus positif di wilayah Tangsel, dimana 914 sembuh, 110 dirawat dan 54 meninggal. Bertambahnya kasus positif di wilayah tersebut, tim menilai perlu adanya penambahan ruang isolasi pasien covid-19.

Data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menunjukkan hingga kini penggunaan Bed Occupancy Ratio (BOR) mencapai 70-80 persen. “Kami dengar BOR untuk ruang isolasi di Tangsel cukup tinggi. Untuk itu, perlu langkah antisipasi agar semua pasien mendapat ruang isolasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pelaksana tugas (Plt) Kadinkes Kota Tangsel, Deden Deni menuturkan, wilayahnya sejak Juli 2020 terjadi tren kenaikan kasus yang tinggi, yang puncaknya pada Agustus. Jumlahnya mencapai yang 200 kasus.

Sebagai langkah antisipasi kenaikan kasis covid-19, lanjut Deden , Pemda Kota Tangsel menyiagakan 12 rumah sakit (RS) swasta serta 1 RS umum rujukan pasien covid-19 berkapasitas 223 tempat tidur (TT).

“Pada awal Agustus, kami sempat kesulitan mendapatkan ruang ICU. Kondisi serupa dikhawatirkan akan terjadi lagi pada Oktober mendatang. Hal itu dilihat dari bertambahnya kasus secara signifikan belakangan ini. Semoga kasusnya tak makin bertambah,” ucap Deden.

Terkait hal itu, Rita menilai perlu langkah mitigasi dengan mendorong rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta untuk bersiap menambah kapasitas tempat tidur khusus pasien covid-19. Pihaknya juga mendesak, selain penguatan penanganan, juga diperlukan penguatan dari segi upaya pencegahan, dengan aktif melakukan edukasi tentang protokol kesehatan ke masyarakat.

“Kami harap Dinas Kesehatan siapkan rumah sakit dan mengantisipasi kasus agar tidak semakin bertambah. Beri pemahaman kepada masyarakat, jika mengalami gejala seperti covid-19, segera berobat. Jangan sampai kondisinya berat baru ke rumah sakit,” katanya.

Rumah sakit yang dikunjungi adalah RSUD Kota Tangsel, RS Sari Asih Ciputat dan Rumah Lawan COVID-19 (RLC).

Di RSUD Kota Tangsel dilaporkan, mereka menyiagakan 18 tempat tidur untuk isolasi pasien dimana 13 tempat tidur ada di IGD. Di depan rumah sakit terdapat tenda untuk menyortir pasien covid-19 dan non covid-19.

RSUD juga menyiapkan gedung khusus yang baru selesai dibangun untuk menambah kapasitas ruang isolasi sebanyak 40 tempat tidur. Gedung itu akan dipergunakan mulai Oktober mendatang. Bertambahnya ruang isolasi, maka diperlukan penambahan SDM.

Di RS Sari Asih Ciputat disiapkan 52 tempat tidur dengan 2 ruang ICU, hingga kini telah terisi sebanyak 49 orang, dimana 25 orang diantaranya terkonfirmasi positif covid-19.

Pemerintah Kota Tangsel menyediakan fasilitas karantina bagi pasien bergejala ringan dan tanpa gejala di Rumah Lawan Covid-19 (RLC). Gedung di kawasan pertanian terpadu itu memiliki kapasitas 150 tempat tidur dengan 28 tenaga kesehatan yang bertugas. Hingga saat ini, RLC telah diisi oleh 76 orang pasien.

“Adanya RLC sangat membantu penanganan covid-19 di Tangsel. Jadi, pasien dengan gejala ringan dan tanpa gejala bisa di karantina di sini. Sedangkan pasien dengan kondisi sedang dan berat dirawat di RS. Strategi ini harus dilakukan agar tidak terjadi penumpukan pasien di RS Rujukan,” tutur Rita. (Tri Wahyuni)