Perluas Akses Pembelajaran, Kemdikbud Luncurkan Akun ‘Belajar.id’

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuka akun pembelajaran berbasis elektronik di ‘Google” yang dapat diakses siswa, guru dan tenaga kependidikan di Indonesia. Akun dengan nama domain @belajar.id itu diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid-19.

“Dipilihnya akun di Google karena selain gratis, kita juga dapat akses ke layanan pendukung pembelajaran di ‘Google Suite for Education’ banyak digunakan publik,” kata Sesjen Kemdikbud, Ainun Na’im dalam acara peluncuran Belajar.id secara virtual, Jumat (11/12/20).

Hadir dalam acara itu, Dirjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan dan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Umar.

Akun pembelajaram berbasis elektronik ‘Belajar.id’ itu dikelola oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemdikbud.

Alasan lainnya, dikemukakan Ainun Na’im adalah sistem Google mampu mengelola puluhan juta akun sekaligus dengan tingkat keamanan yang tinggi. Akun yang sama dapat digunakan untuk mengakses layanan lain milik Kemdikbud baik di dalam maupun luar ekosistem Google.

Dijelaskan, akun pembelajaran berbasis elektronik itu dapat digunakan siswa sekolah dasar (SD) dan Paket A kelas 5-6, SMP dan Paket B kelas 7-9, SMA dan Paket C kelas 10-12, SMK kelas 10-13, dan SLB kelas 5-12. Selain guru jenjang pendidikan dasar dan menengah serta tenaga kependidikan yaitu kepala satuan pendidikan dan operator.

“Penggunaan akun pembelajaran itu bersifat pilihan (opsional). Jika akun itu tidak diakses oleh siswa, guru dan tenaga kependidikan sama sekali hingga 30 Juni 2021 maka akun tersebut akan dinonaktifkan secara otomatis.

Upaya yang dilakukan Kemdikbud mendapat apresiasi dari Dirjen Aplikasi Informatika, Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan. Katanya, digitalisasi pendidikan adalah terobosan yang harus dilakukan Kemdikbud.

“Jika bicara transformasi digital, maka ada 3 pilar yang dikembangkan yaitu masyarakat, pemerintah dan ekonomi/bisnis. Di masa depan, sektor pendidikan sangat seksi di era tranformasi digital, karena banyak aplikasi yg diciptakan untuk pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.

Untuk itu, Semuel menambahkan, dibutuhkan ketuntasan infrastruktur penunjang digitalisasi, khususnya keamanan data. Regulasi pemberian payung hukum diperlukan agar tercipta rasa aman.

“Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi (PDP) akan menjadi payung hukum untuk melindungi data pribadi masyarakat di Indonesia, tak terkecuali sektor pendidikan,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Direktur KSKK Madrasah, Kemenag, Ahmad Umar. Upaya digitalisasi pembelajaran di madrasah dilakukan lewat 2 reformasi pembelajaran yakni e-office dan e-learning. Tujuannya, menggabungkan transformasi digital dengan ‘cyber paedagogy’ dan ‘cyber technology’ demi terwujudnya ‘cyber education.

“Hal itu untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kemampuan komunikasi dan kolaborasi, dan kebiasaan berpikir kreatid dalam menyelesaikan masalah,” ujar Ahmad Umar.

Dalam bagian akhir peluncuran, Sesjen Kemdikbud Ainun Na’im menjelaskan lebih luas penggunaan akun ‘Belajar.id’. Katanya, jenis layanan pembelajaran yang dapat diakses lewat akun tersebut, antara lain surat elektronik (email), penyimpanan dan pembagian dokumen secara elektronik dan pengelolaan administrasi pembelajaran.

Selain, lanjut Ainun, akun tersebut juga untuk penjadwalan proses pembelajaran secara elektronik, pelaksanaan proses pembelajaran secara daring, baik secara sikronus maupun asinkronus dan Rumah Belajar Kemdikbud untuk materi pembelajarannya.

“Daftar lengkap layanan pembelajaran yang dapat diakses dapat dilihat di www.belajar.id,” katanya.

Untuk mengaktifkan akun, disebutkan, operator satuan pendidikan bisa masuk ke laman pd.data.kemdikbud.go.id, lalu login. Setelah masuk, operator dapat memilih tombol ‘unduh akun’ guna mengakses dokumen CSV yang berisi daftar nama akun (user ID) dan ‘password’ di akun pembelajaran tersebut.

“Operator satuan pendidikan akan mendistribusikan akun tersebut ke setiap pengguna akun pembelajaran di satuan pendidikan yang bersangkutan,” ujarnya.

Untuk mengaktifkan, tambah Ainun, pengguna memakai user ID dan password akun pembelajaran untuk login di laman mail.google.com. Pengguna juga setuju atas syarat dan ketentuan penggunaan akun pembelajaran serta mengganti passwordnya.

“Akun pembelajaran akan menjadi salah satu jalur komunikasi resmi Kemdikbud ke siswa, guru dan tenaga kependidikan. Akun Pembelajaran itu juga digunakan untuk mengakses aplikasi resmi Kemdikbud,” kata Ainun.

Ditambahkan, materi dan informasi dari Kemdikbud, misalkan terkait bantuan pemerintah dan Asesmen Nasional akan dikirimkan ke alamat pos elektronik lewat akun pembelajaran. Karena itu, Kemdikbud menyarankan penggunaan akun pembelajaran semaksimal mungkin.

Adapun keamanan akun pembelajaran, menurut Ainun, telah diatur sesuai peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan perlindungan terhadap kerahasiaan data, informasi, dokumen aktivitas akun pembelajaran hingga kemungkinan terjadinya kelalaian dalam penggunaan dan penyalahgunaan data, informasi atau dokumen aktivitas akun pembelajaran.

Disebutkan, jumlah akun pembelajaran yang sudah disiapkan Kemendikbud, untuk admin sebanyak 529.310 akun, guru 2.850.424 akun dan siswa sebanyak 27.008.332 akun.

Pembuatan akun di Google merujuk pada Peraturan Sesjen Kemdikbud Nomor 18 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan Data Pokok Pendidikan untuk Akun Akses Layanan Pembelajaran, serta Surat Edaran Nomor 37 Tahun 2020 tentang Akun Akses Layanan Pembelajaran bagi Peserta Didik, Pendidik dan Tenaga Kependidikan. (Tri Wahyuni)