Perluas Gerakan Literasi, Kemdikbud Kirim 2 Juta Buku ke Wilayah 3T

0

JAKARTA (Suara Karya): Peningkatan mutu pendidikan juga akan dilakukan mulai dari daerah pinggiran Indonesia. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengirim 2,4 juta eksemplar buku ke wilayah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal).

“Pengiriman buku bacaan ini bagian dari Gerakan Literasi Nasional yang digagas Kemdikbud sejak 2016 lalu,” kata Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemdikbud, Dadang Sunendar disela pencanangan Buku Literasi dan lokakarya Gerakan Literasi Nasional di Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Kemdikbud, Harris Iskandar.

Dijelaskan, pencetakan dan pengiriman buku literasi ke wilayah 3T merupakan salah satu upaya pemerataan literasi agar menjangkau seluruh masyarakat. Hal itu sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

“Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21. Budaya itu dikembangkan melalui pendidikan terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah hingga ke masyarakat,” tuturnya.

Disebutkan, selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal 6 jenis literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Dalam sejarah peradaban manusia, membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal oleh manusia.

“Membaca dan menulis merupakan literasi fungsional yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Membaca menjadi kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan. Memiliki kemampuan membaca dan menulis, seseorang dapat menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik,” ucapnya.

Ditambahkan, Gerakan Literasi Nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi. Bagaimana menghimpun semua potensi dan keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan budaya literasi di Indonesia.

“Gerakan literasi tak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua dan masyarakat. Karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting,” katanya.

Saat ini Kemdikbud telah membentuk kelompok kerja (pokja) Gerakan Literasi Nasional untuk mengoordinasikan berbagai kegiatan literasi yang dikelola unit-unit kerja terkait. Gerakan Literasi Masyarakat, misalkan, dikembangkan Ditjen PAUD dan Dikmas sebagai tindak lanjut program pemberantasan buta aksara.

Seperti dikemukakan Dirjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud, Harris Iskandar, upaya literasi itu menghasilkan apresiasi berupa penghargaan dari Unesco pada 2012. Karena Indonesia berhasil dalam mencapai target melek aksara sebesar 96,5 persen.

“Sejak 2015, Ditjen PAUD dan Dikmas juga menggerakkan literasi keluarga sebagai bagian dari pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan minat baca anak,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Harris, orangtua membiasakan baca buku bersama anak di rumah, mempererat hubungan sosial emosi antara orang tua dan anak dan menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

“Keluarga berperan penting dalam proses literasi. Lewat keluarga pula anak akan mengenal dunia sekitar dan pola pergaulan yang akan membentuk pola kepribadian anak,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemdikbud Abdul Khak melaporkan, pada 2019 Gerakan Literasi Nasional (GLN) melakukan pencetakan dan pengiriman 2.402.320 eksemplar buku, yang terdiri dari 60 judul. Buku tersebut dikirim ke 47.678 sekolah di berbagai jenjang, 658 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serta 40 perpustakaan di daerah 3T yang tersebar di 27 provinsi.

Buku literasi yang dikirim adalah terbitan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Buku tersebut telah melalui tahap seleksi dan uji kelayakan oleh Pusat Perbukuan. Karena itu, muatannya sesuai standar, serta mengandung konten yang mampu menumbuhkan budi pekerti siswa.

“Buku yang dikirim beragam mulai dari buku cerita anak atau dongeng lokal, buku biografi inspiratif tentang tokoh lokal atau anak bangsa yang berprestasi dan buku sejarah yang menebalkan rasa cinta tanah air,” kata Abdul Khak. (Tri Wahyuni)