Perlunya Guru Pahami Kompetensi Murid lewat Asesmen Awal Pembelajaran

0

JAKARTA (Suara Karya): Guru perlu memahami kompetensi murid melalui asesmen awal pembelajaran. Hal itu akan memudahkan dalam memilih metode ajar, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Iwan Syahril dalam webinar ‘Sapa GTK Episode ke-6’, pada Jumat (1/7/22).

Iwan memaparkan langkah-langkah dalam asesmen awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi. Sehingga tenaga pendidik memiliki informasi awal dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara tepat.

“Pentingnya memahami asesmen awal pembelajaran, karena sekolah saat ini diberi kebebasan dalam memilih dan menerapkan kurikulum di sekolah,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Iwan, Kemdikbudristek menyiapkan angket untuk membantu satuan pendidikan menilai tahap kesiapan dirinya, sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka.

“Ada tiga pilihan jalur, sesuai kondisi dan situasi setiap satuan pendidikan. Jalur pertama, yaitu Mandiri Belajar. Pilihan itu memberi kebebasan kepada satuan pendidikan saat menerapkan Kurikulum Merdeka, tanpa perlu mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10,” kata Iwan.

Jalur kedua adalah Mandiri Berubah. Pilihan itu memberi keleluasaan kepada satuan pendidikan saat menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Sedangkan jalur ketiga adalah Mandiri Berbagi, di mana satuan pendidikan diberi keleluasaan menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

“Dua tahapan penting yang harus dilakukan guru sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran di kelas. Pertama, penerapan asesmen awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi. Guru dapat mengumpulkan dan mengolah informasi, lalu mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat capaian dan kemampuan serupa.

“Guru dapat memberi intervensi pengajaran dan beragam aktivitas pembelajaran sesuai level, bukan hanya dari usia dan kelasnya. Guru mengajarkan kemampuan dasar yang perlu dimiliki peserta didik dan menelusuri kemajuannya,” kata Iwan menegaskan.

Academic Manager Sekolah Bina Cita Utama, Palangkaraya, Indriyati Herutami mengemukakan, pada dasarnya asesmen merupakan bagian terpadu dalam proses pembelajaran. Hasilnya akan menjadi umpan balik kepada peserta didik dan orang tua, sehingga bisa memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

“Asesmen harus dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai,” ucapnya.

Indriyati yang juga konsultan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menjelaskan proses merancang pembelajaran dan asesmen menjadi kegiatan saling berkaitan, terpadu, dan tidak terpisah. Saat merancang pembelajaran, guru juga harus memperkirakan bentuk asesmennya.

Pembicara lain adalah Oscarina Dewi. Ia menjelaskan pembelajaran berdiferensiasi. Banyak orang berpikir jika menerapkan suatu metode pembelajaran bukan hal mudah, karena harus membuat perencanaan dan kegiatan pembelajaran yang berbeda-beda untuk semua peserta didik di kelas.

“Menerapkan pembelajaran terdiferensiasi tidak sesusah yang dibayangkan. Pada dasarnya guru sudah mengimplementasikannya, tapi mungkin belum menyadarinya,” kata Oscarina dari Indonesian Primary Principal Global Jaya School, Tangerang Selatan.

Pembelajaran terdiferensiasi, lanjut Oscarina, membuat para guru fokus pada siswa-siswanya. Karena itu, guru harus membuat keputusan yang masuk akal untuk mencapai tujuan pembelajaran. Seorang guru harus paham apa yang harus dia capai.

“Guru juga harus melihat kecenderungan murid seperti apa, harus merespons kebutuhan belajar, dan harus memperkirakan seberapa siap murid saat menerima pembelajaran tertentu,” katanya.

Ditambahkan, guru harus memastikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid. Tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah. Guru juga harus dapat mempersiapkan manajemen pembelajaran efektif di kelas. (Tri Wahyuni)